Tiba-tiba dadaku terasa begitu sesak
Aku tidak tau mengapa
Sepagi ini aku sudah mengingatmu untuk kesekian kali nya
Kenapa sangat sulit untuk mengikhlaskanmu
Merelakanmu menjadi milik orang lain
Membiarkan kita menjadi asing
Mengapa sesakit ini melangkah pergi?
Mengapa ketulusan tidak pernah ada arti bagimu?
Aku tau, parasnya begitu menawan
Kaki jenjang dan kulit putihnya
Telah membuat mu terepsona begitu dalam
Hingga kamu tidak pernah perdulikan aku
Aku yang dengan tulus begitu mencintaimu
Bahkan dengan tega kamu puji dia di depanku
Dengan tega kamu bilang akan meminta cintanya
Andai kamu tau, pisau itu terlalu dalam menancap di hatiku
Tidak kah kamu berfikir barang sedikitpun akan perasaanku?
Tidak kah kamu berfikir bahwa aku hancur sehancur hancurnya
Hingga sampai saat ini pun aku belum mampu menata kembali kepingan kepingan hati yang dengan begitu sengaja kamu pecahkan
Namun, yang lebih melelahkan adalah
Aku masih saja terus memikirkanmu
Aku masih saja mendewakanmu
Menganggapmu yang terindah
Aku masih mencintaimu
Aku tidak tau sampai kapan aku bisa menahan rasa sakit ini
Aku juga tidak tau sampai kapan aku akan terus mengharapkanmu
Berpaling menoleh ke arahku dan kembali memyapaku
Semoga waktu akan lekas memulihkan segala yang patah
Dan membersamai bahagia sampai waktu kembali ke semesta tiba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar