Sabtu, 18 Juli 2020

Kecewa

Rabu, 15 Juli 2020

Malam itu adalah malam dimana aku memutuskan untuk benar-benar pergi dari kehidupan seseoramg yang teramat sangat aku cintai dengan baik. Aku membulatkan tekad untuk tidak lagi memasuki kehidupannya. Bukan karna aku sudah tidak lagi mencintainya, tapi karna aku tidak sanggup menahan rasa cemburu ketika dia mulai membicarakan wanita yang ia cintai.

Sebelumnya aku pikir aku kuat, aku pikir aku sanggup menahan rasa cemburu sembari menghilangkan perasaan sayangku ke dia dan tetap berada disisinya sebagai seorang sahabat. Tapi malam itu, Rabu, 15 Juli 2020 aku sadar ternyata aku tidam sekuat yang aku kira. Aku tidak setegar yang aku bayangkan. Oleh karena itu aku memutuskan pergi dari hidupnya untuk sementara waktu agar aku mampu membunuh perasaan yang tak bertuan ini.

Malam itu, telah aku siapkan sebuah bingkisan permintaan maaf sederhana untuknya. Aku minta maaf karna tidak bisa menepati omonganku untuk tetap berada disampingnya. Malam itu juga aku berharap kesan baik ketika aku benar-benar pergi. Aku mau dia mengingatku sebagai seseorang yang pernah mencintainya dengan tulus dan merelakannya bahagia dengan pilihannya.

Tapi, yang ku dapatkan hanyalah kekecewaan. Permintaan maafku tak diterima dengan baik malam itu. Semua usahaku untuk membuat bingkisan itu pun sama sekali tidak dihargai dan aku direndahkan serendah rendahnya. Hanya karna kesalahan yang tak kusengaja telah membuat dia dan seseorang yang dia cintai bertengkar. Yah, begitulah takdir yang belum berpihak pada ku. Aku kecewa bukan krn dia marah padaku, tapi aku kecewa karna dia sama sekali tidak menghargai usahaku dan malah memfitnahku berniat jelek pada hubungan dia dan kekasihnya. Aku sama sekali tidak tau apa yang ada didalam pikirannya, aku tidak tau dia menganggap aku ini apa. Bahkan untuk memganggap sebagai seorang teman pun dia tidak sudi. 

Malam itu juga aku tersadarkan bahwa dia memang benar-benar tidak mengenalku dengan baik. Yah, seseorang yang aku cintai dan aku anggap sahabat ternyata sama sekali tidak mengenal ku. Dia tega menuduh ku melakukan hal yang bahkan tidak pernah terlintas di benakku. Entah bagaimana aku harus menjelaskan semuanya. Aku tau dia, aku paham jika apapun yang aku katakan tidak akan pernah dia dengar. Pembelaan yang paling benar pun pasti dianggap salah olehnya. Aku tidak tau, kenapa dia kecewa atas hal yang sama sekali tidak ku lakukan. Dan aku? Hanya bisa menangis menerima hal yang tidak ku lakukan. Disini aku yang seharusnya kecewa. Yah, aku kecewa, sangat kecewa. Dia menganggap ku tidak lebih dari "tai anjing". Sakit, sakit banget mendengar dia menghujat ku sehina itu. Setelah sebelumnya aku selalu menganggap dia raja dan selalu memberikan yang terbaik even sebagai seorang teman.

Aku tidak pernah sedikit pun berniat menyakitinya, tetapi kenapa dia tega merendahkanku dan tidak menghargai apa yang aku berikan. Mungkin benar, aku selalu menyakiti diri sendiri setiap kali memberikan sesuatu kepadanya. Kata maaf dan terimakasih pun tak ku dengar dari mulutnya. Aku kecewa, sangat kecewa!!

Hanya karna dia ingin mempertahankan satu orang yang dia tega melakukan hal itu padaku setelah segala hal yang aku usahakan. Iya, sia sia dan percuma. Mungkin aku tidak akan pernah melupakan hujatannya ini. Sampai kapanpun. Hujatan ini akan ku jadikan senjata ku untuk terus berjalan menjauhimu. Jika kamu memang ingin aku membencimu, selamat! Kamu berhasil.

Ketahuilah, kelak kamu akan kehilangan semua orang yang care sama kamu, yang sayang sama kamu, hanya untuk memeprtahankan satu orang yang kamu pedulikan. Dan ketika itu terjadi, mungkin aku sudah jauh lebih bahagia😊

Terimakasih kamu telah mau menjadi bagian dari kisah yang semakin mendewasakan ku.
Semoga kamu segera tersadarkan dan ingat, aku selalu tersenyum melihatmu dari kejauhan. Sekali lagi terimakasih. GAPB💔

Sabtu, 16 Mei 2020

Aku Pernah

Aku pernah
Begitu berharap namun selalu dikecewakan
Aku pernah
Begitu keras berjuang untuk seseorang, namun disia-siakan
Aku pernah
Begitu mencintai namun sama sekali tidak dipedulikan
Aku pernah
Begitu menyayangi namun tidak pernah dianggap ada
Aku pernah
Begitu peduli namun dianggap mengusik hidup nya
Aku pernah
Menahan sakit hanya untuk membuatnya bahagia
Meski dia sama sekali tidak tau dan tidak mau tau
Dan aku pernah
Begitu bodoh meninggikannya padahal aku selalu direndahkan
Yah... Aku pernah melalui hal-hal menyakitkan itu
Aku pernah melalui hal-hal mempermalukan diri sendiri
Hanya untuk meminta hatinya yang sejatinya tidak pernah beranjak dari masa lalu
Meminta hatinya yang masih tertahan dan enggan bergerak dari tempat ia berada dulu
Hingga aku berkali kali tersadar dan kemudian jatuh lagi
Terjatuh hanya karna satu ingatan indah tentang kamu yang tiba-tiba terlintas dalam sepiku
Terjatuh hanya karna lagu yang pernah kita nyanyikan bersama
Sampai aku tersadar kembali
Bahwa mengagumimu adalah sebuah kesalahan
Sekeras apapun aku berusaha 
Sekuat apapun aku bertahan
Sejauh apapun aku berusaha mendekat
Dan setulus apapun cinta yang aku berikan
Sama sekali tidak akan merubah hatimu yang telah terikat dan tak pernah mau terlepas
Melihat kamu baik-baik saja tanpa adanya aku
Memaksaku untuk tetap tersadar dan segera menepi
Menjauh dan tidak lagi kembali hanya karna kamu masih sendiri
Perlahan, tapi pasti
Waktu akan menyembuhkan lukaku
Waktu akan menghilangkan rasaku
Waktu akan menyatukan kembali kepingan hati yang telah terpatahkan
Dan waktu akan membawaku pada masa dimana aku bahagia dan tidak lagi mengingatmu
Aku yakin, semesta punya cara tersendiri untuk membuatmu merasakan rasa sakit yang pernah aku rasakan karnamu. Suatu saat nanti. Dan jika saat itu tiba, ingatlah aku. Seseorang yang pernah kau sakiti tanpa kau sadari.
Tetimakasih untuk lukanya. Aku akan sembuh. 

Senin, 23 Maret 2020

Hari ini, sepagi ini
Tiba-tiba dadaku terasa begitu sesak
Aku tidak tau mengapa
Sepagi ini aku sudah mengingatmu untuk kesekian kali nya
Kenapa sangat sulit untuk mengikhlaskanmu
Merelakanmu menjadi milik orang lain
Membiarkan kita menjadi asing
Mengapa sesakit ini melangkah pergi?
Mengapa ketulusan tidak pernah ada arti bagimu?
Aku tau, parasnya begitu menawan
Kaki jenjang dan kulit putihnya
Telah membuat mu terepsona begitu dalam
Hingga kamu tidak pernah perdulikan aku
Aku yang dengan tulus begitu mencintaimu
Bahkan dengan tega kamu puji dia di depanku
Dengan tega kamu bilang akan meminta cintanya
Andai kamu tau, pisau itu terlalu dalam menancap di hatiku
Tidak kah kamu berfikir barang sedikitpun akan perasaanku?
Tidak kah kamu berfikir bahwa aku hancur sehancur hancurnya
Hingga sampai saat ini pun aku belum mampu menata kembali kepingan kepingan hati yang dengan begitu sengaja kamu pecahkan
Namun, yang lebih melelahkan adalah
Aku masih saja terus memikirkanmu
Aku masih saja mendewakanmu
Menganggapmu yang terindah
Aku masih mencintaimu
Aku tidak tau sampai kapan aku bisa menahan rasa sakit ini
Aku juga tidak tau sampai kapan aku akan terus mengharapkanmu
Berpaling menoleh ke arahku dan kembali memyapaku
Semoga waktu akan lekas memulihkan segala yang patah
Dan membersamai bahagia sampai waktu kembali ke semesta tiba


Selasa, 17 Maret 2020

Sebenarnya,
Banyak hal yang ingin ku katakan
Banyak topik yang ingin ku bahas
Yah, seperti dulu
Saat semua baik-baik saja
Saat tak ada sekat di antara kita
Saat tembok itu belum kau bangun
Saat kita bisa tertawa lepas
Membahas hal-hal yang diluar batas
Menertawakan kita dan juga mereka
Bahkan melihat sampai akhir film yang tak begitu menarik
Namun sekarang,
Semua tidak seperti waktu itu
Keadaan telah berubah
Atau memang ini yang seharusnya?
Sungguh aku membenci situasi ini
Menyapamu menjadi hal yang tak bisa ku lakukan
Meski hatiku sangat menginginkannya
Aku harus tetap sadar
Bahagiamu adalah ketika aku tak terlihat olehmu
Aku bisa apa?
Bahkan untuk sekedar menjadi temanmu saja aku tak pantas
Apalagi inginku sebagai seorang sahabat seperti dulu
Kau tak izinkan itu
Kau telah benar-benar menutup pintu hatimu untuk ku
Aku tau hadirku hanya akan membuatmu kehilangan bahagiamu
Mau tidak mau sekarang aku harus tau diri
Bahwa aku memang tidak pernah kau harapkan ada dihidupmu
Walau otakku mengatakan jika kau begitu kejam
Tapi hatiku tak pernah mau sepakat
Kau tetaplah yang terindah....
Selamat malam, semoga kau selalu dalam kebaikan🙂

Selasa, 10 Maret 2020

Hai, selamat malam kamu
Maaf malam ini aku menulis lagi tentangmmu. Berharap suatu saat nanti kamu akan membaca tulisanku ini. Ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku setelah aku brnar-benar berniat melakukan apa yang kamu inginkan, iya.. melangkah menjauhimu. Aku sedih, dan aku juga tidak habis pikir kenapa kamu bisa beranggapan aku ini adalah pribadi yang sombong? Bahkan kamu anggap aku merasa lebih baik dari orang lain? Kenapa bisa seperti itu? Aku tidak tahu kamu bisa menyimpulkan dari mana tentangku. Ironisnya kamu menganggapku seperti itu disaat aku sedang merasa berada di titik paling rendah dalam hidupku. Disaat aku merasa tak berguna, disaat aku merasa minder dengan siapapun, disaat aku merasa paling hina dan disaat aku merasa no life. Kenapa bisa kamu malah berpikiran buruk tentangku? Jika kamu tau, aku membandingkan diri ku dengan mereka karena aku merasa dalam kondisi paling rendah. Bahkan aku merasa tak ada artinya buat siapapun. Tapi nyatanya dimatamu aku malah terlihat semakin buruk. Aku tidak tau, apa memang benar-benar seburuk itu kah aku dimatamu? Atau memang kamu tidak pernah benar-benar mengenalku selama ini?
Hal tersulit dalam hidupku selama ini adalah menghilangkan rasa minder dan rendah diriku. Sedihnya dimatamu aku masih terlihat seperti menyombongkan diri. Sungguh aku tidak pernah merasa seperti itu. Apalagi merasa lebih baik dari dia yang berhasil memikat hatimu. I'm nothing, and always be nothing for you. Semoga suatu saat nanti kamu bisa paham akanku. Dan tidak lagi menganggapku demikian. Aku tau penjelasanku ini tidak pernah kamu butuhkan bahkan sama sekali tidak penting untunkmu. Tapi, biarlah aku tetap ingin menjelaskannya. Mau percaya atau tidak itu hak kamu. Yang jelas aku tidak pernah menjadi seseorang yang kamu pikirkan kemarin.

Minggu, 08 Maret 2020

Mulai malam ini,
Aku benar-benar melepaskanmu kepada semesta
Mengikhlaskanmu untuk kesekian kalinya
Entah bagaimana aku mendefinisikan apa yang aku rasakan saat ini
Aku tidak tau
Hancur? Sudah pasti
Sakit? Jangan lagi ditanya
Tapi aku juga lega
Akhirnya hati ini mau untuk mencoba melepasmu
Memberimu ruang untuk mencari kebahagiaan yang selama ini tertahan olehku
Ikhlasku semoga membawamu kepada bahagia yang kamu impikan
Seperti biasa, jangan pedulikan aku
Bahagiamu lebih penting dari bahagiaku
Aku masih punya urusan mendamaikan hati ku dengan keadaan
Semoga mereka segera menemukan jalan tengah untuk tak lagi bertengkar
Selamat malam, sayang
Selamat tinggal, aku pamit.

End

Sabtu, 07 Maret 2020

Dear kamu yang sangat aku cinta

Malam ini, aku masih bisa memandangmu seperti dulu. Aneh ya rasanya, canggung dan tak terdefinisikan lagi. Entahlah, aku berusaha biasa seperti sedia kala, tapi lagi lagi memang sudah takdirnya semua berubah. Aku tak lagi bisa bercanda lepas denganmu. Seperti ada sekat dan tembok yang begitu tinggi yang kamu bangun. Tenang saja, aku mulai memahaminya kok. Pada dasarnya kamu tidak perlu menjauh, karna aku tau bagaimana caranya mundur.
Kamu pasti syok atas apa yang ku lakukan sekarang, atau mungkin biasa aja ya hehe karna banyak perempuan yang bahkan melakukan hal lebih gila dari aku. Jangan tanyakan kenapa aku harus seperti ini, aku sendiri pun tidak tahu jawabannya. Hatiku ingin melakukannya dan aku tak tau kenapa.
Lewat ini, hatiku hanya ingin menyampaikan salam perpisahan kalik. Setelah kemarin kamu sempat marah dan hilang respect. Dengan ini, aku berusaha untuk mengembalikan persepsimu tentang aku. Yah walaupun aku tau ini sia-sia, tapi seengaknya sebagai manusia kita boleh kan berusaha?.
Aku sadar kok perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Jadi ya, mau gimana lagi kan? Hehe... Ah aku jadi gatau mau nulis apa lagi.
Aku penasaran, selama aku tak mengganggumu kemarin sempat ngga sih terlintas di pikiranmu tentang aku? Barang sedetikpun gitu... Apa kamu merasa kehilangan? Atau memikirkan bagaimana keadaanku?
Oh ya, ini ada gift buat kamu. Sebenarnya ini dulu aku simpan buat kado wisudamu, tapi karna kamu tidak mau aku datang dan aku tau kamu tidak suka dengan hal-hal seperti ini jadi aku urungkan untuk memberikannya. Kali ini akan ku berikan saja ya, aku mohon jangan menolak dan yang paling penting jangan kamu buang atau kamu berikan buat orang lain. Aku tau ini tidak seberapa, kamu pasti bisa membelinya sendiri bahkan yang lebih baik dari ini. Hanya saja, anggap ini sebagai kado permintaan maafku, kado perpisahan dan mungkin menjadi kado terakhir dari ku. Aku harap kamu suka. Dan kamu selalu ingat kalau kamu pernah menjadi cahaya yang sejenak mampir di kehidupanku. Jadikan ini teman tidurmu, atau mungkin bisa menjadi teman gundam-gundam mu itu hehe. Yah, aku tau ini bakal sedikit menggeser tempat mereka. Tapi trust me ini bagus kok buat cahaya mereka hehe..
Emmm...apa kamu sudah sempat baca blogku? Are u keeping ur promise? Kalau belum ini aku tinggalkan alamatnya nicefisya.blogspot.com. Jika suatu saat nanti kamu mau tau tentang ku mungkin kamu bisa ke sana, tapi aku mohon jangan kamu kasih tau ke dia yang nanti menjadi pendampingmu cukup kamu saja yang tau. Seperti kita yang pernah dekat tapi tak ada yang mengetahuinya.
Setelah ini, aku tidak tau bagaimana masa depan nanti, apakah aku masih bisa datang kesini lagi atau ini hari terakhirku menginjakkan kaki di rumahmu, di kamarmu. Aku tidak tau. Yang jelas jika memang ini hari terakhirku disini, bertemu denganmu, aku ingin menciptakan perpisahan yang indah. Meskipun tidak ada perpisahan yang tidak menyakitkan. Setidaknya biarkan aku sedikit lega.
Aku akan mengikhlaskanmu, dengan siapapun kamu akan bersanding nantinya ku doakan bahagia dalam hidupmu. Tidak ada luka tersebab oleh dia. Jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatanmu. Aku harap kamu bisa segera check up untuk keluhan mata dan pusing mu. Aku pikir ada sesuatu yang salah disana. Maaf aku ikut csmpur hanya saja aku tidak mau kamu kenapa-kenapa. 
Semoga kita masih bisa bertemu lagi ya, dan semoga dalam keadaan yang lebih baik dari sekarang. Jika memang saling asing yang kamu inginkan, dan itu bisa membuatmu lega dan bahagia baiklah, aku akan berusaha sebisaku. Menjadi kita yang dulu, kita yang berjarak. Aku tak apa, akan kupulihkan sendiri perasaan yang masih tersisa ini. Semoga aku tak lagi rapuh, dan selalu ingin tahu apapun tentang mu. Aku harap candu ku atas mu juga segera terobati. Doakan aku ya dari sana.
Jika masih diizinkan bertemu, semoga rasa bencimu yang kemarin sempat ada sudah hilang tak berbekas. Dan aku juga sudah bisa mengikhlaskanmu. Kita bisa kembali menjadi sahabat tanpa ada rasa yang lain.
Terimakasih sudah mengajariku banyak hal dan menyadarkanku bahwa hatiku masih bisa mencintai setelah sekian lama tak rerisi. Dulu, aku sempat berpikir hatiku telah mati rasa dan tak lagi bisa merasakan cinta. Tapi kehadiranmu mengubah segalanya meski pada akhirnya aku harus kembali patah dan hancur lebur. Tak apa, aku yakin waktu akan memulihkan semua yang patah dan mengobati setiap luka.
Terimakasih ndung, secara tak sadar sudah sempat memberiku kebahagiaan.

Love u

Senin, 02 Maret 2020

Aku benci malam ini
Karna merindukanmu lagi
Tapi kali ini, aku tak bisa mengatakannya seperti dulu
Bukannya aku tak berani
Tapi, aku belum siap dengan jawaban menyakitkan yang akan kamu utarakan
Jadi aku memilih menulisnya disini
Lembar dimana tak kamu tidak akan melihatnya
Betapa memalukannya diriku karnamu

Minggu, 01 Maret 2020

Tidak tahu kah kamu?
Segala yang tentangnya begitu membuatku terluka?
Aku tahu, dia membuatmu tersenyum
Aku juga tahu, dia membuatmu bahagia
Aku pun tahu, dia yang kamu inginkan
Tapi, tak adakah sedikit hatimu untuk tidak lagi menggoreskan luka dihatiku?
Bahkan yang sebelumnya pun aku belum berhasil menyembuhkannya
Aku tidak tahu sampai kapan luka ini akan bersemayam direlung hatiku
Aku juga tidak tahu harus sampai kapan aku pura-pura untuk tetap tersenyum di hadapanmu
Pura-pura baik-baik saja ketika kamu mulai membicarakan tentang dia
Yah, tentang dia yang kamu pilih untuk menjadi pendamping sepimu sekarang
Jika kamu tahu, saat kamu mulai membuka kalimat untuknya
Saat itu juga lukaku semakin mengaga
Sakit, perih, dan segalanya yang berakhir luka
Tapi, aku bisa apa?
Entah kamu bercanda atau tidak tentang dia
Bagiku tak ada bedanya, luka itu tetap saja mengikutiku kemanapun aku berpaling
Maaf, tersebab aku belum juga bisa baik-baik saja

♥️GAPB

Senin, 24 Februari 2020

Tentang sebuah permohonan

Seseorang pernah bertanya kepadaku
"Jika saat ini Tuhan mengabulkan satu permohonanmu, apa yang akan kamu pinta?"
Lalu aku menjawab
Aku akan memohon untuk kebahagiaan seseorang yang selalu kusebut namanya dalam doaku
Lalu dia berkata
"Percaya kah kamu tentang sebuah ketulusan mencintai yang merasa bahagia hanya dengan melihat orang yang dicintai bahagia?"
Aku hanya tersenyum mendengarnya
Lalu dia melanjutkan
Puncak dari mencintai seseorang denga tulus adalah dengan mengikhlaskan dia bahagia meski tak sempat kamu memilikinya
Aku pun terdiam
Otakku dengan sengaja mengingatmu lagi
Mencintaimu mengajarkanku untuk lebih kuat dari sebelumnya
Tak apa jika memang Tuhan tidak mengizinkanku untuk memilikimu
Saat ini aku masih sedikit lega
Aku memang kehilangan raga dan jiwamu, yang bahkan belum sempat ku miliki
Namun aku baik-baik saja asal aku tak kehilanganmu dalam pelukan doa
Di ruang doa aku masih bisa memelukmu dengan erat
Meneriakkan namamu hingga aku tenggelam dalam lautan air mataku sendiri
Disana aku masih bisa mencintaimu sepuas-puasnya, sebesar-besarnya,seluas-luasnya dan selama-lamanya
Jika pada akhirnya Tuhan tetap tidak mengizinkanku memilikimu
Tak apa, Aku rela
Setidaknya Tuhan mengabulkan setiap doa-doa ku yang atas namamu, cinta.
Berbahagialah...
Kita,, adalah kisah yang telah usai 
Bahkan sebelum saling memiliki

♥️(gapb)

Sabtu, 22 Februari 2020

Sekarang, aku tak tau mengapa luka itu masih ada
Semakin terasa jika ada suatu hal yang bahkan bukan tentangmu tapi justru malah mengingatkanku denganmu
Mungkin,
Aku belum pernah merasakan sejauh ini berjarak denganmu
Tembok yang kau bangun semakin tinggi dan kokoh
Hingga memaksaku untuk selalu menebak apa yang ada di baliknya

Kau yang semakin tidak peduli akan ku
Membuatku semakin menyadari bahwa memang bukan aku yang kau izinkan masuk dalam hidupmu
Mengenalmu lebih dekat, dan membersamaimu hingga rambutmu memutih
Kepada kamu yang tak akan membaca tulisan ini
Karna sebanyak apapun waktu senggang yang kamu miliki
Tak pernah sedetik pun yang memang untukku

Tenang saja,
Sama sekali tak ada maksud apa-apa untukmu
Aku, tak akan marah tersebab olehmu
Apalagi menyalahkanmu karena tak bisa menerimaku
Tulisan ini hanya untuk membuat hatiku yang sesak penuh dengan semua tentangmu bisa sedikit merasa lega
Bisa merasakan kembali bernafas setelah sekian lama ku tahan
Karna aku sudah tak sanggup lagi menyimpannya baik di hati ataupun otakku
Keduanya sama-sama sepakat tak bisa lagi menampungnya
Oleh karenanya aku tuliskan bersama kata-kata

Jika pada akhirnya memang bukan aku yang kamu izinkan masuk di kehidupanmu
Aku mengaku kalah,
Meski belum juga hatiku menerima
Apabila suatu hari nanti kamu telah menemukan seseorang yang bukan aku
Yang kamu minta mendampingimu sepanjang usiamu

Maaf,
Sampai saat ini aku masih saja menunggumu
Mungkin jika semesta mengizinkan
Aku akan terus menunggu dan menanti kamu sepanjang sisa umurku
Namun jika tidak,
Sebelum aku benar-benar melangkah pergi menjauhimu
Izinkan aku menyampaikan rasa maafku yang mungkin sudah basi
Maaf jika aku telah mencintaimu begitu dalam
Yah, aku memang benar-benar kalah pada akhirnya
Satu-satunya pemenangnya adalah doaku untukmu
Doaku untuk senyummu dan kebahagiaanmu di sepanjang sisa waktu yang kamu miliki di dunia ini
Meskipun bukan dengan diriku


Jumat, 21 Februari 2020

Selamat malam,
Bagaimana harimu akhir-akhir ini? Apakah menyenangkan? Ku harap kamu sehat ya saat ini. Maaf, lagi-lagi aku masih menulis tentangmu. Malam ini ditemani hujan dan suara katak yang sahut menyahut menambah suasana syahdu yang kurasakan. Dan pastinya aku masih teringat tentang mu, tentang kita. 

Banyak tanya yang memang seharusnya tak usah ku pertanyakan. Perihal masa depan yang selalu membuatku cemas. Siapa nantinya yang akan membuat ku berhasil melupakanmu. Siapa orang beruntung yang bisa bersanding denganmu. Dan apakah kita memang tidak berjodoh. Sampai kapan aku selalu seperti ini. Mengingatmu seolah sudah menjadi pekerjaan favorite yang selalu ku sesali. Serta pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya yang membuat penyakit overthinking ku semakin menjadi-jadi.

Kamu tau apa yang ku lakukan jika aku ada dalam kondisi seperti ini? Yah, aku menulis, meluapkan apa saja yang ada di otakku. Melepaskan sebagian kecil bebanku lewat tulisan ini. Mungkin tak kan ada orang yang mengerti bahkan tak kan ada yang mau memahami. Oleh karnanya aku menulis, dimana dengan ini aku tak menerima saran yang membosankan lagi. "Sabar ya", "aku juga sama", "masalahku lebih berat", "itu tak seberapa", "aku udah lama, trs putus b aja", "udah lah cari yg lain" dan saran yang sudah sering aku dengarkan. Sampai-sampai aku bisa menebak apa yang akan mereka katakan hanya dari raut muka yang hendak mengucapkan kata. Dan lagi pula disini, walau aku menulis sepanjang apapun juga tak kan ada penolakan. Bahkan tak kan ada yang membaca, termasuk kamu. Kamu, topik favorite ku yang tak akan pernah membaca apa yang ku tuliskan disini. Sebenarnya aku tak lupa kamu pernah berjanji untuk membaca blog ku suatu hari. Tapi aku rasa janji itu tak akan kau tepati. Bahkan mungkin kamu sudah lupa pernah berjanji akan hal itu. Meskipun aku punya bukti nya, aku rasa kamu akan cari alasan. Seperti sebelum-sebelumnya. 

Sekarang, aku tak akan lagi menyuruhmu membacanya. Aku tak kan lagi memaksamu untuk apa yang tak kamu mau. Tentang ku mungkin hanya menambah bebanmu saja.

Oh ya, hari ini kamu sibuk apa? Kerja? Magang? Menghabiskan waktu di rumah atau menikmati hari ini bersama nya? Aku tau aku tak berhak bertanya semua itu, dan pastinya kamu enggan menjawabnya lagi. Mangkannya aku tak punya cukup nyali untuk bertanya langsung lewat apapun itu. Aku sudah cukup sakit kamu abaikan, dan tentunya betapa tak tau malunya aku kalau aku tetap mengganggumu lewat pesan singkat tak bermutu itu. Bukannya aku tak mau lagi untuk menanyakan semua yang ingin ku tanyakan, hanya saja aku belum cukup kuat untuk merasakan sakit lagi atas balasan pesan yang nantinya kamu kirimkan. Aku terlalu takut untuk terluka lagi. Jadi selalu ku urungkan niat ku untuk menyapamu. Saat ini otakku selalu ku usahakan memenangkan perdebatan dengan hatiku. Dan aku tau itu pun mau mu. Aku pergi menjauh, bahkan jangan kembali katamu lewat acuhmu yg seolah memberiku isyarat untuk melakukannya.

Berat memang. Sangat berat. Bahkan aku tak tau lagi harus melakukan kegiatan apalagi hanya untuk tak mengingatmu. Namun, jika malam tiba seperti ini aku selalu gelisah. Memikirkanmu sedang apa, makanmu terjaga tidak, bersama siapa dan apakah kamu pernah mengingatku walau sedetik saja di setiap harimu. Aku selalu penasaran akan hal itu, karna kamu selalu ada di setiap hela nafasku sepanjang harinya.

Malam ini, aku kembali merindukanmu. Aku tau tak kamu perbolehkan. Tapi aku bisa apa, kerinduan ini juga akan sia-sia pada akhirnya. Jadi ku putuskan untuk menikmati setiap sakit tersebab olehnya. Tadi, tak sengaja aku melihatmu mengganti poto profil di whatsapp mu yang jarang kau gunakan. Gambar itu tampak jelas menggambarkan kondisimu yang sedang tak baik-baik saja. Ingin rasanya aku membantumu keluar dari kesedihan itu, membuatmu bahagia sebisaku dan menuruti inginmu agar kamu kembali tersenyum dan melepas kan topeng yang selama ini kamu pakai. Membuatmu tak lagi menunduk merasakan sakit yang begitu dalam. Aku tau kamu terluka, aku tau kamu menginginkan seseorang hadir untuk melepaskanmu dari apa yang kamu rasakan. Sebenarnya jika diizinkan aku mau menjadi seseorang itu. Tapi sayangnya kamu tak mau orang itu adalah aku. Mungkin menurutmu memang masih dia yang terbaik, hingga tulus ku pun begitu saja kamu abaikan.  Yah, aku paham bagaimana situasinya. Mungkin aku dan kamu memang hanya ditakdirkan untuk dekat dan saling mengisi masa lalu yang tak kan pernah menjadi "kita" dimasa depan. Aku mulai rela kok menjadi temanmu. Suatu saat nanti jika kita kembali bertemu, aku harap rasaku sudah menjadi sama dengan rasamu saat ini.

Yaudah, sudah larut. Aku lelah meneteskan air mata. Selamat malam, semoga mimpimu indag ya malam ini.
I miss u so much (GAPB)💔


Senin, 17 Februari 2020

Ketika Ku Kira Aku Istimewa (by Fiersa Besari)

Kukira hanya untukku dirimu
Ternyata kau terbagi ke segala penjuru Sporadis memberi angin surga kepada kawanan pemangsa
Masih kurangkah telinga ini mendengar keluh kesahmu?
Belum cukupkah waktuku untuk membalas semua aduanmu?
Jika aku yang kau rasa menenangkanmu lantas mengapa ia yang menenangkanmu? Siapa gerangan dirinya?
Dari mana datangnya?
Mengapa aku tidak melihatnya datang? Nampaknya terlalu rapi kau sembunyikan musuhku di dalam selimutmu
Siapapun yang berusaha merenggutmu akan kuanggap musuhku
Jadi selama ini, saat aku berharap mungkin saja kau dan dirinya sedang bermalam mingguan
Saat aku terbuai mungkin saja kalian sedang bergandengan tangan
Saat aku hendak membantu masalah-masalahmu sudah ada dirinya yang menjadi ksatria untukmu
Bravo! luar biasa
Dan kalah sebelum berperang adalah perasaan yang sangat menyebalkan hari ini
Mau tak mau harus kupakai lagi topeng senyumku
Kusimpan lagi perasaanku rapat-rapat 
Selamat kataku padahal bara membakar hati sembari hangus
Aku terus menerus mengutuk diri sendiri
Wahai kau yang berjubah api puaskah kau menjadikanku arang?
Sebenar-benarnya cemburu yang menyakitkan adalah cemburu pada seseorang yang tidak peduli akan perasaan kita
Namun, ini bukan salahmu, sungguh..
Memang aku saja yang tidak pernah cukup berani untuk menjabarkan apa yang sepatutnya kau ketahui
Selamat ulangku,
Dengan penuh kemunafikan padahal diam-diam kudoakan ia mati saja
Kau tersenyum matamu berbinar entah lugu atau pura-pura tak mengerti mengenai apa yang kupendam
Dan aku yang bodoh ini terkunci rapat-rapat di dalam labirinmu
Tak tahu jalan keluar
Secara terselubung kususupi hari-harimu dengan pengharapan secercah harapan mampu hadir,
Bahkan di ruangan tergelap 
Tenang saja kau takkan kehilangan segala perhatianku
Aku hanya menyembunyikannya lebih rapi lagi 
Ya, aku mengalah mengalah karena aku percaya kalau kau memang untukku sejauh apapun kakimu membawa lari jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali padaku


Terimakasih bang Fiersa telah mewakili perasaanku :)

Sabtu, 15 Februari 2020

Pada akhirnya aku memang harus melangkah pergi
Bukan karna inginku
Namun, karna acuhmu yang lagi lagi memaksaku untuk menggunakan logikaku
Aku tau kamu saat ini sudah sangat menginginkanku untuk tak lagi ada di hidupmu
Bahkan jika memang bisa, mungkin dengan segera kamu bakal menghapus segala tentangku bahkan melenyapkanku
Tanpa berpikir panjang tentu akan kamu lakukan dengan senang hati
Aku juga tau, rasa tak nyamanmu sudah tak lagi bisa tertahankan
Mangkannya, segala upaya akan kamu lakukan untuk bisa membuatku pergi menjauh dari mu
Tak lagi mengusik hidupmu
Acuhmu, abaimu dan kata-kata yang seringkali mematahkan hati ku terus kamu lakukan
Dan, selamat.. kamu berhasil kali ini
Aku sadar, mau seperti apapun aku berusaha dekat denganmu itu akan percuma
Yang ada, kamu malah semakin pergi berlari
Dan aku, hanya akan semakin menjadi perempuan hina dimatamu
Sekarang, mulai hari ini aku pasrah sama keadaan ini
Aku akan menuruti semua mau dan inginmu
Aku akan pergi menjauh
Aku akan kembali menciptakan jarak antara kita seperti sebelumnya
Aku lelah, lelah yang benar-benar lelah..
Harapku yang pupus berkali-kali hingga membuat sakit itu tercipta berulang kali
Selamat tinggal,
Jaga dirimu baik-baik
Semoga siapapun itu tak akan menyakitimu seperti apa yang telah ku lakukan saat ini
Jika suatu saat nanti kita bertemu
Aku harap semua sudah kembali pulih
Lukaku dan juga rasa kesalmu

Selamat tinggal sayang!💔(gapb)
Malam ini, aku hanya bisa tersenyum simpul. Setelah seharian cukup lelah berjibaku memantaskan diri untuk masa depan yang juga tak kunjung di kabulkan oleh sang pemilik alam semesta. Kini dimalam yang sunyi dan ditemani dengan rintikan hujan mengantarkan lamunanku untuk sedikit mengingat tentang kisah yang aku alami. Tak ada tangis lagi, hanya senyum tak lepas yang tersisa. Yah, apalagi kalau tidak tentang kisah cintaku yang juga tak berjalan seperti apa yang aku harapkan. 

Aku tau, kisahku bukan lah kisah paling menyedihkan yang pernah ada, bukan tentang ditinggalkan dia yang dicinta, bukan tentang terpisahkan yang padahal saling cinta, bukan tentang cinta tanpa restu dan bukan juga tentang perpisahan setelah menjalin hubungan cukup lama. Tapi nyatanya ini justru kisah yang membuatku terperangkap dalam kesedihan tanpa arah, dan jika kamu tau kisah ini amat sangat membuatku terpuruk. Padahal banyak mereka yang mengira sebelumnya bahwa aku perempuan kuat, perempuan tangguh, dan perempuan yang bahkan susah untuk sedih tersebab lelaki. Jangankan mereka, aku sendiri pun tak habis pikir dengan diriku sendiri yang sebegitu merasa tersakitinya karena kisah yang bahkan juga belum di mulai. Aku kira aku tak serapuh ini, dan aku bisa bangkit seperti sebelumnya yang seolah terlatih untuk patah hati. Ternyata, seiring berjalannya waktu ketegaran dan ketangguhanku pudar karena dia yang bisa membuatku merubah perspektif tentang kehidupan. Ya, dia yang telah berhasil membuka pintu hati ku lalu meninggalkan begitu saja tanpa ada niatan sekalipun untuk sekedar mengetuk apalagi masuk.

Mencintai memang indah pada awalnya. Saat itu aku senang, telah kembali merasakan hal yang ternyata sudah cukup lama tidak aku rasakan. Perasaan yang bahkan aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya. Yang jelas, saat itu aku bahagia setiap kali kita berhasil bertemu menciptakan moment berdua atau bersama mereka. Melihatnya seolah menjadi moodbooster tersendiri buatku. Memperoleh notifikasi darinya pun sudah bisa membuatku senyum kegirangan. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu. Padahal sebelumnya bertemu dengannya terasa biasa saja bahkan tak pernah ada yang istimewa. 

Namun, rasa itu perlahan berubah menjadi rasa cemas yang tak lagi bisa ku sembunyikan. Gelisah karena dia yang tak lagi sama seperti awal kita kembali dipertemukan oleh takdir setelah tak pernah didekatkan. Dia berubah. Sangat berubah. Bahkan aku tak lagi mengenalnya. Pikiran dalam otakku selalu berfikir dia sedang dekat dengan seseorang yang jelas itu bukan aku. Oleh karnanya dia menjadi dia yang tak lagi ku kenal pada saat itu. 

Dari sana aku mulai paham, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Hingga aku merasa tak mau kehilangannya. Demi apapun aku tak sanggup kehilangannya. Melihatnya dekat dengan seseorang yang bukan aku telah cukup menggoreskan luka di hati ini. Namun, aku sadar siapa aku dalam hidupnya.

Mencintai seorang sahabat, aku rasa itu akan mudah. Karena tak perlu lagi memulai dari nol apapun itu. Kata mereka yang juga terjebak dalam lingkaran setan persahabatan yang disebut friendzone justru sebaliknya. Memang seorang perempuan berpikir demikian, namun dari segi lelaki ternyata berbeda. Kaum adam lebih memilih mendekati seseorang yang baru daripada bersama yang telah lama dikenalnya. Alasannya, apalagi kalau bukan penasaran atau tertantang. Entahlah,, tadinya aku tak begitu saja percaya. Sampai ada akhirnya aku lelah dengan rasa cintaku yang semakin lama semakin menyiksa ku karena dia yang justru malah semakin menjauh.

Aku mencintainya dengan segala masa lalu yang ia ceritakan padaku. Aku tak menghiraukan apa yang mungkin itu buruk. Cinta ini bahkan membuatku selalu ingin membuat dia bahagia entah bagaimana itu caranya. Yang jelas dia bisa tersenyum bahagia tersebab olehku. Hingga batas-batas pertemanan mungkin terabaikan. Rasa tak mampu kehilangan itu lah yang semakin menguatkan ku untuk mengungkapkannya.

Aku pikir dengan pengakuanku yang memang aku sudah tau jawabanya bahwa dia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat, akan bisa membuat segalanya jadi lebih baik lagi. Meskipun aku tak bisa memilikinya namun aku masih bisa bersamanya sebagai orang yang dekat dengannya yaitu sahabat. Namun, sekarang aku menyesal telah mengatakan apa yang aku rasakan. 

Aku perlahan kehilangan dia. Kehilangan dia sebagai orang yang aku sayang dan sekaligus dia sebagai seorang sahabat. Sedih rasanya, tersebab aku mencintai sahabatku, aku harus rela kehilangannya. Mungkin hari ini dia sudah benci dengan ku dan sepaket dengan rasa cintaku yang tak kunjung pergi ini. Bahkan jika bisa dia ingin benar-benar pergi menjauh dari ku. Entah ini hanya rasa kecewaku atas sikap acuhnya yang memang mengisyaratkanku untuk menjauh darinya atau memang benar dia yang tak mau lagi aku ada dalam hidupnya.

Malam ini, bahkan aku merasa terpatahkan lagi. Tersebab cintaku, dia pergi. Senyum simpulku kembali hadir. Dan terlintas tanya, "bukankah seharusnya aku yang menjauhinya? Kenapa malah justru dia yang seolah jijik atau benci denganku? Kenapa seperti ini? Aku yang merasa tersakiti, dan aku yang merasa terpatahkan berkali-kali, seharusnya aku yang membencinya dan seharusnya aku yang memblokir dia dari hidupku kan? Kenapa aku yang malah terblacklist juga pada akhirnya?" Ingin aku berteriak dimana keadilan itu sebenarnya, apakah sudah lupa akan tugasnya?. Tapi lagi-lagi aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Orang yang paling bisa tersalahkan adalah diriku sendiri. Aku yang sudah berani mencintainya dan aku yang telah salah menjatuhkan hati untuknya. Tak sepantasnya aku bermain seolah aku sang korban. Dalam hal ini aku tak bermain dengan siapa-siapa selain dengan hatiku sendiri. Mungkin aku terlalu mencintainya melebihi cintaku pada sang Pencipta hingga Dia cemburu dan memberiku rasa sakit tersebab rasa itu. Aku menyesal dan aku pasrah. Jika tersisa kesempatan untuk memberitahunya lagi, aku hanya ingin meminta maaf atas rass cinta yang aku miliki untuknya. Maaf karena rasa itu kamu menjadi tak lagi mau berteman denganku. Andai bisa ku putar waktu, mungkin aku akan memilih untuk tidak mengatakan nya jika pada akhirnya aku harus kehilangannmu secepat ini. Tapi apa dayaku, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang aku hanya bisa menikmati apa yang telah ku mulai hingga entah kapan suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang tak lagi menangis saat mengingatmu dan biasa saja mendengar namamu. 

Kisah yang kandas sebelum dimulai telah mengajarkan ku arti sebuah keikhlasan dan sebuah pengorbanan. Menyadarkanku bahwa rasa nyaman tak selamanya berarti ada perasaan. Dan terkadang memang hidup berjalan tak sesuai yang kita inginkan. Banyak hal yang kita mau dan kita harapkan tak bisa kita gapai. Sekeras apapun kita berusaha jika memang takdir berkata dia tak mau bersama, aku tak bisa menolaknya. Bukankah sejatinya kita hanya menjalankan skenario dari Nya? Memang penyesalan selalu datang terlambat, tapi aku yakin akan ada hari esok yang lebih bahagia untukku dan juga untuk dia yang pernah dan masih ku cinta. Terimakasih tak sengaja telah menciptakan moment bahagia denganku dan sedikit memberi warna dalam hidupku yang monoton sebelumnya. Aku akan melupa dengan rela dan ikhlas tanpa luka suatu saat nanti. Aku harap suatu hari nanti dia membaca tulisanku malam ini.
Sekali lagi Terimakasih untuk dia yang brlum ku lupa (GAPB)





Jumat, 14 Februari 2020

Baru juga semalam aku pamit
Berniat untuk melangkah pergi
Menjauh dari kamu yang bahkan sama sekali tak pernah perduli
Tapi nyatanya hari ini,
Rinduku begitu menyiksa diri
Sampai pada akhirnya aku pun kembali memberanikan diri
Menyapamu untuk kesekian kali
Bahkan mengharap temu itu kan kembali terjadi
Yah, padahal aku tau pasti terpatahkan lagi

Hari ini, aku kembali menyesali
Kalimat bodoh yang ku ucapkan
Telah membuatmu semakin tak menyukaiku atau bahkan kamu sudah mulai untuk membenciku
Memasang kembali tembok yang sudah susah payah aku hancurkan

Hari ini, aku kembali menyesali
Rasa cemburu yang menguasai hati
Dan penolakan yang justru kembali tak bisa ku terima
Membuatku melontarkan kata yang tak seharusnya ku ucapkan dihadapanmu
Maaf, sekali lagi maaf
Aku tak bisa mengontrol rasa sesak didada karnanya

Aku hanya belum bisa rela
Kamu menjadi miliknya bahkan mendengarmu dekat dengannya saja aku seolah ingin mengutuknya menjadi apa yang tak pernah ia inginkan
Tapi apa daya, aku bukan Tuhan yang bisa mengendalikan apapun
Yang bahkan, hatiku sendiri tak mampu ku kendalikan
Kau menghindariku malah justru karna rasa cintaku yang tak kunjung hilang

Maaf, 
Jika kata itu harus ku ucap beribu kali bahkan berjuta kali, aku rela
Asal rasa bencimu bisa hilang tersapu
Maaf,
Maaf aku telah kembali menjadi pribadi yang amat sangat menyebalkan hari ini
Membuatmu berlari sekencang-kencangnya
Tanpa kembali menengok ke arahku
Mungkin bencimu juga sudah tak terkendali
Sama seperti rasa cemburuku tadi
Tapi, jika suatu saat nanti rasa marahmu sudah reda aku mohon jangan hilangkan aku dari ingatanmu
Andai kamu tau,
Ada hal yang lebih menyakitkan dari sebuah penolakan
Yaitu,
Dibenci oleh orang yang kita cintai
Hari ini aku kembali terpatahkan lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya
Aku tidak hanya takut kamu pergi sebagai orang yang aku sayang
Lebih dari itu, aku takut sangaaat takut kehilanganmu sebagai seorang sahabat yang tak kan pernah menganggapku baik
Aku takut sikap ku hari ini membuatmu memasang dinding yang bahkan lebih tinggi dan lebih kokoh dari sebelumnya
Sungguh, aku takut

Aku harus apa untuk kembali mendapatkan maafmu?
Aku harus bagaimana untuk membuatmu tetap disini?
Aku harus seperti apa untuk membuatmu tetap menganggapku sekedar sebagai seorang sahabat?
Aku mohon beritahu aku
Aku mohon jangan pergi dulu

*From the bottom of my heart, i'am sorry i still love u, eventhought i can't have u (GAPB)*💔

Kamis, 13 Februari 2020

Hai, apa kabar?
Semoga kamu bahagia hari ini
Aku pamit ya
Maaf, bukan nya aku lelah berjuang
Atau tak mau bertahan
Tapi aku mulai sadar bahwa ada hatiku yang memang harus segera ku selamatkan
Ternyata jatuh cinta sendirian sangat membuatku kewalahan
Dari cara mu mengabaikanku,
Aku harsunya tersadar dari dulu
Bahwa itu penolakan halus yang tak langsung kau utarakan secara lisan
Maaf, aku terlambat sadar
Aku terlalu bersemangat selalu melangitkan namamu disetiap detik yang ku punya
Hingga tak ku hiraukan sedikitpun pertanda darimu
Akhirnya aku sadar
Bukan aku yang kamu inginkan
Terimakasih atas bahagia yang tanpa sadar telah kamu berikan
Terimakasih telah mengajariku arti mengikhlaskan tanpa sempat memiliki
Jaga dirimu baik-baik ya
Aku pamit, selamat tinggal...

Eventhought i can't forget u as soon as u want 💔 (GAPB)

Rabu, 12 Februari 2020

Mungkin aku harus seikhlas langit yang memberi hujan tanpa meminta sebuah balasan
Mencintai adalah memberi bukan meminta
Pun menerima bukan memaksa
Karena terkadang ketulusan tak selamanya dianggap berharga :)

Senin, 10 Februari 2020

Malam ini, aku memberanikan diri untuk mengingatmu. Meski belum juga genap seminggu aku pura-pura lupa. Oh, lebih tepatnya memaksa untuk tak mau mengingatmu. Seperti katamu, aku harus bisa tak lagi mengingatmu. Memang, pura-pura lupa terkadang cukup menenangkan ya ternyata. Aku yang tak lagi berharap untuk tau aktifitasmu. Dan aku yang mencoba tak mau tau akan kisahmu lagi. Yah, aku harus sadar bahwa aku tak berhak untuk tau kabarmu lagi. Bahkan, sekedar tau apakah kamu baik-baik saja aku tak cukup berani bertanya.

Menyedihkan yah, kita yg semula tak berjarak menjadi asing sebab ulahku yang tak ku pikir panjang terlebih dahulu. Maaf ya, kalau aku kemarin sempat jadi pribadi yang menyebalkan dan bahkan membuatmu ilfil mengenalku. Aku harap suatu saat nanti kamu masih mau menjadi kamu yang sebelum ini. Aku tak ingin mengingat kembali rasa yang belum juga pergi ini, tapi aku hanya rindu kita yang dulu. 

Ingin rasanya aku bertanya, apakah ada inginmu untuk sekedar tau aku masih hidup atau sudah tiada? Ingin tau apakah aku sudah baik atau makin terpuruk? Ah, maaf aku kembali berharap hal yang mustahil terjadi. Jika malam tiba, aku kembali dengan ketakutanku akan esok hari. Berharap mempercepat hari untuk melompat ke masa dimana aku mengingatmu tak lagi luka dan mendengar namamu aku biasa saja. Mungkin hari itu esok, lusa, minggu depan, atau bulan depan. Entahlah... Rasa-rasanya aku tak sabar menunggu hari itu tiba. Kamu tenang saja ya, jangan bertingkah aneh lagi, jangan gunakan mereka untuk membuatku menjauh apalagi membencimu. Andai kamu tau, ada atau tiada mereka yang kamu cintai, aku tak bisa menjamin segera melupa. Jadi stop doing stupid thing. Im on my way being the old me. And all i need just time for healing. Please dont make me die by saying u falling in love with her.

Selamat malam, semoga besok harimu menyenangkan ya tanpaku lagi♥️(GAPB)

Sabtu, 08 Februari 2020

Biarlah...
Biar Allah saja yang tau bagaimana hatiku mencintaimu, merindukanmu dan menginginkanmu...
Kamu boleh membenciku tapi aku mohon jangan benci rasa cintaku untukmu
Karna aku tak tau kapan dan darimana ia datang pun aku tak pernah tau kapan ia akan pergi
Aku kira dulu, tak serumit ini
Ku sangka, melupakanmu adalah hal yang mudah untuk ku
Semudah aku mencintaimu waktu itu

Namun, nyatanya...
Sesusah ini aku bangkit
Aku sadar, melupakan tak semudah mencintaimu
Jatuh, bangkit, jatuh lagi dan harus bangkit lagi
Hanya untuk sekedar menghapus memori tentangmu
Yang bahkan setiap kata yang kau ucap masih tertanam jelas di ingatanku
Sentuhan lembutmu pun masih terasa nyamannya

Padahal sudah jelas aku harus melupa
Menganggap semua tak pernah ada, tak pernah terjadi
Seperti paksamu dan juga inginmu
Entah kenapa begitu mudah bagimu
Mengabaikanku seolah aku wanita paling hina
Yang mudah kau atur untuk segera lupa

Aku bukan boneka yang terlatih
Aku hanya manusia biasa yang punya rasa yang tak biasa
Sampai kapankah kau tetap seperti ini?
Selalu berpindah dari satu dermaga ke dermaga lain
Hanya untuk membandingkan kepantasan untuk bersanding?
Apa yang sebenarnya kau cari?
Apa yang sebenarnya kau inginkan?
Sampai kapan kau akan berhenti untuk sekedar penasaran?
Berhentilah, aku mohon..
Jangan kau sakiti masa depanmu dengan doa tak baik dari mereka yang pernah tersakiti olehmu..

*Aku yang (masih) mencintaimu (GAPB)♥️

Rabu, 05 Februari 2020

Don't Watch Me Cry

Oh, it's hurts the most 'cause I don't know the cause
Maybe I shouldn't have cried when you left and told me not to wait
Oh, it kills the most to say that I still care
Now I'm left tryna rewind the times you held and kissed me back

I wonder if you're thinkin' "Is she alright all alone?"
I wonder if you tried to call but couldn't find your phone
Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine
A moment in time, don't watch me cry
A moment in time, don't watch me cry

I'm not crying 'cause you left me on my own
I'm not crying 'cause you left me with no warning
I'm just crying 'cause I can't escape what could've been
Are you aware when you set me free?
All I can do is let my heart bleed

Oh, it's harder when you can't see through the thoughts
Not that I wanna get in but I want to see how your mind works
No, it's harder when they don't know what they've done
Thinking it's better they leave, meaning that I'll have to move on

Oh, I wonder if you're thinkin' "Is she alright all alone?"
I wonder if you tried to call but couldn't find your phone
Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine
A moment in time, don't watch me cry
A moment in time, don't watch me cry

I'm not crying 'cause you left me on my own
I'm not crying 'cause you left me with no warning
I'm just crying 'cause I can't escape what could've been
Are you aware when you set me free?
All I can do is let my heart bleed

#songbyjorahsmith
I'll always love u GAPB💔

Shadow

You walk into the room
So perfect but unaware
Making me stop and stare
Every time I heard she broke your heart
Can I just fix you boy?
Show you a different world?

I'll take you anywhere
I'll put you on a throne
I'll lay down my heart, I swear
And I'll make sure that you'll never be alone

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait?
Is it too soon, too late?
Only my shadow knows

I've been loving you so long
And now that I got the chance
I see you need to dance on your own
So I'll wait another day
Maybe another year
I'm gonna be right here, oh

I'll take you anywhere
I'll put you on a throne
I'll lay down my heart, I swear
And I'll make sure that you'll never be alone (alone)

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait?
Is it too soon, too late?
Cause only my shadow knows

I wish I could say all these words
All these things that your heart never heard, yeah
But I saw the pain in your eyes and it sealed my lips

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait?
Is it too soon, too late?
Only my shadow knows, hey
Only my shadow knows, oh oh

Only my shadow knows

(Shadow by Austin Mahone)

Just for u GAPB☹️

Selasa, 04 Februari 2020

Selasa, 4 Februari 2020

Hai, selamat malam...
Ada yang mau aku sampaikan padamu, tapi kalau lewat chat sepertinya aku belum siap dengan jawabanmu yang sudah ku pastikan mencabik-cabik hatiku. Jadi, akhirnya aku hanya bisa menulis di blog ini. Dengan harapan suatu saat nanti kamu bisa baca. Meski saat itu, mungkin aku sudah tidak dalam keadaan yang sama lagi. Dan semoga sudah lebih baik dari saat ini.

Hari ini, ada cerita apa di detikmu? Sibuk apa tadi? Seperti biasa, apa ada hal yang bisa kamu ceritakan padaku? Mungkin ada orang yang sudah bikin kamu sedih, marah, atau mungkin sudahkah ada orang yang membuatmu tersenyum hari ini? Ah, sepertinya tanyaku yang pastinya tanpa jawab ini hanya memenuhi lembar tulisan kali ini. Maaf ya kamu masih menjadi topik favoritku.

Malam ini, aku mau cerita ndung. Pencapaianku hari ini telah pada dititik pasrah dalam mengharapkanmu. Aku sudah tak lagi meneteskan air mata untuk mengingatmu. Entah karena aku sudah mulai ikhlas atau memang karena air mata ku sudah habis untukmu. Yang jelas sesak itu masih ada. Ruangan hatiku yang tadinya tersusun rapih, penuh dengan kenangan kita yang hanya sebentar, kini terpaksa harus ku obrak abrik susunannya agar rasa dan kenangan itu bisa kulepas. Perlahan mulai ada ruang untuk ku sekedar menghela napas. 

Bukannya aku menyerah untuk memperjuangkanmu. Aku hanya perlu istirahat sejenak sembari berfikir, pantaskah aku tetap memperjuangkanmu? Yang bahkan pengorbanan ku tak sedikit pun kamu anggap. Aku hanya manusia biasa yang memiliki batas, seperti batas cintaku padamu yaitu cintaku pada pemilikmu. Tapi, aku rasa ini yang kamu mau. Ini yang kamu inginkan. Kamu yang selalu ingin aku untuk pergi, membuang rasa cintaku yang memang tak kau harapkan. Aku mulai lelah berharap untuk bisa bersamamu. Kemustahilan yang selalu aku semogakan disetiap doa ku. Dan kini aku tak lagi ingin berharap padamu, aku hanya berharap pada sang penciptamu. Jika bagi mu mustahil, aku yakin bagi Allah sangat mudah membalikkan hatimu jika memang kau tercipta untukku. Aku pasrah pada takdirNya. Aku tau Allah pasti telah menyiapkan yang terbaik buat kita. Entah kita nantinya akan bersama atau tetap berpisah.

Mendengar kabarmu telah menemukan tambatan hati, sedikit menggetarkan hatiku. Memaksa rasa cemburuku kembali muncul. Hingga aku melakukan kesalahan bodoh yang mungkin membuatmu tak nyaman. Maaf untuk hal itu. Aku masih berusaha untuk menata kepingan - kepingan hati yang kali ini memang belum kembali sempurna. Banyak tanya yang ingin ku tau jawabannya. Tentang tanya siapa dia? mengapa dia? Kenapa dia? Apa lebihnya? Dan pertanyaan bodoh lainnya yang aku tau itu pasti melukaiku (lagi). Hingga aku tersadar, tak semua tanya harus ada jawabnya sekarang kan? Satu hal yang mengganggu benakku dari itu semua, kenapa kamu menemukannya sekarang? Kenapa disaat aku sedang tertatih menyembuhkan luka ini kamu seolah bahagia? Setega itu kamu? Sejahat itukah kamu sebenarnya? Namun, pembelaan hatiku bilang, itu caramu membantuku melupakanmu. Kamu tak benar-benar suka sama dia yang kamu anggap menarik sekarang. Pembelaan ini semakin menyakitiku. Kenapa aku tak pernah bisa membencimu? Sedalam ini kah rasa ini untukmu, hingga logikaku selalu menepi menghadapimu.

Saat ini, aku mencoba untuk merelakanmu. Melepasmu bersama dia yang kamu mau. Tangisku tak lagi ada malam ini. Mungkin dia lebih bisa membuatmu bahagia daripada aku saat ini.

Tapi maaf, aku masih mencintaimu dan aku tak tau sampai kapan rasa ini bertahan. Namamu masih menjadi list dalam setiap doaku. Aku mohon, jangan menyuruhku menghapus namamu dalam doa ku. Karena itu satu-satunya hal yang bisa ku lakukan untuk tetap bisa mencintaimu. Maaf, karna aku akan tetap mencintaimu dalam do'a. Ungkapan rasa yang tak mungkin lagi ku ucapkan dihadapanmu. Aku takut kamu semakin menjauh dan tak nyaman dengan ini. Satu pintaku, jika kamu lelah berpetualang atau dia menyakitimu lihatlah aku yang masih ditempat yang sama. Memandangmu dari kejauhan dan siap memelukmu jika kamu mengizinkan. Saat ini, aku pamit. Menata diri, menata hati, dan memantaskan diri untuk seseorang entah itu kamu atau berwujud bukan kamu. 

Selamat malam, semoga esok hatimu telah berbalik..

I will always love u♥️ (GAPB)

Jumat, 31 Januari 2020

Hai kamu, selamat malam...
Udah lebih dari sepekan yah kita menjadi asing? Kamu, apa kabar? Bagaimana harimu tadi? Ada yang menarik kah? Adakah yang membuatmu tersenyum hari ini? Kalau boleh tau apa itu dan siapa mereka? Atau ada yg membuatmu sedih, marah, hingga tak enak hati? Disini aku masih tetap sama, cerewet dan bawel selalu ingin tau tentang keadaanmu. Maaf ya aku belum bisa jadi alasanmu bahagia bahkan untuk sekedar tersenyum sekalipun.

Bahkan sekarang aku tak cukup berani untuk menanyakan apapun yang ingin ku tau. Karna aku mengerti, kamu malas untuk menjawabnya dan mungkin tanyaku hanya akan membuatmu risih tentunya. Mangkannya, aku hanya menjadi pengecut yang menuliskannya di media ini. Disini aku bisa menulis apapun yang ingin aku katakan padamu. Yah, walau aku tak yakin tulisan ini akan kamu baca nantinya. Tapi bagiku setidaknya aku lega, meski semua tanyaku tak mendapatkan jawabannya. Memang semua tanya tak harus ada jaesbannya sekarang kan? Mungkin esok lusa atau entah kapan aku akan tau semua jawaban itu.

Hari ini, aku sudah lebih baik dari sebelumnya. Hati ku mulai tertata kembali meskipun jangan ditanya rasa itu masih tetap berada di tempat yang sama. Tapi jangan tertawa ya, sore tadi air mataku jatuh lagi. Entah mengapa tiba-tiba ngalir aja gitu. Sesak banget rasanya, berusaha tetap tegar memang tak semudah yang motivator bilang ya? Dan menjadi kuat pun tak segampang ekspektasiku. 

Namun, perlahan aku tersadar jika untuk saat ini, memang lebih baik kita jadi teman. Karna aku semakin tau, dunia kita memang berbeda. Setelah pertemuan kita kemarin, sebenarnya aku semakin takut kehilanganmu. Kamu tau kenapa? Karna kamu berubah. Aku tau, ini caramu membantuku melupakanmu dengan jaga jarak dariku. Ngga enak ya ternyata, disaat aku mencoba untuk biasa aja tapi kamu ngejauh gitu. Jika kamu tau, dicuekin, gak dianggap itu lebih menyakitkan. Apalagi kita berada di satu ruangan yang sama tapi seolah kamu mengaggapku tak ada. Sumpah itu sakit, hehe. Sampai-sampai hanya makan berdua aja kamu benar-benar sudah tak mau lagi. What the fuck hurts i felt. Tapi, aku paham situasi dan kondisinya. Di otakku hanya kata "Oh gini ternyata sebegitu tak mau nya ya?". Entah itu benar atau memang hanya perasaanku saja yang lagi tak stabil.

Perspektif tentang dewasa kita ternyata berbeda ya. Aku pikir dewasa itu, sahabat tetap sahabat meski salah satu tau yang lain menyimpan rasa, tetap bisa seperti sedia kala. Bisa bercanda, nggak garing apalagi ngejauh gini. Aku pikir kita tetap bisa seperti sebelumnya dengan mengesampingkan rasa yang ada. Ternyata menurutmu sebaliknya. Dewasa versimu dengan memaksaku untuk lupa. Lalu kamu bertingkah beda dan menjauh seperti ini. Aku sebenarnya tak paham seperti apa pola pikirmu. Apa aku yang terlalu percaya diri telah menganggapmu sebagai sahabat yang padahal sama sekali kau tak menganggapku demikian? Ah, mungkin definisi tentang sahabat kita berbeda. Seperti perbedaan tentang kata dewasa tadi. Hehe.. Eh, maaf ya. Aku bahas hal yang nggak begitu penting ini.

Hari ini kamu jadi pergi ke luar kota? Apakah sudah sampai? Semoga kamu tetap dalam lindunganNya ya dimanapun kamu berada. Pesan ku, hati-hati ya.. maaf aku tak sempat mengirimkannya sebelum kamu berangkat. Lagi-lagi aku tak berani :). 

Semoga hari ini menyenangkan buatmu. Maaf ya, aku belum juga bisa mengikhlaskanmu sepenuhnya. Tapi tenang, aku akan terus berusaha kok. Jika itu bisa mengembalikanmu menjadi kamu yang sebelumnya, aku pasti akan usahakan. 
Selamat istirahat, selamat malam.


*Aku yang selalu merindukanmu

Senin, 27 Januari 2020

Malam ini aku tak mengerti
Apa yang sebenarnya ku mau
Apa yang sebenarnya ku lakukan
Dan kenapa aku seperti ini
Mengingatmu sudah kupastikan aku terluka
Tapi, merindukanmu aku tak kunjung jera

Dihadapanmu, seolah aku lupa
Lupa akan rasa yang sebenarnya masih ada
Berusaha tegar ternyata tak mudah bagiku
Menunggu kabarmu masih menjadi candu bagiku malam ini
Meskipun aku tau, online mu bukanlah untukku
Jika boleh ku tebak, aku hanya menjadi orang terakhir yang kau balas chatnya dengan semaumu
Benar kan?

Yahh, memang seperti sebelumnya begitu
Aku saja yang tak tau malu meminta dipriotitaskan padahal bukan siapa-siapa
Apalagi, sekarang sudah tak ada lagi yang menarik dariku
Percakapan kita pun hanya berakhir dengan haha hehe hihi yang tak jelas apa itu artinya

Kamu bilang, kamu tak akan jaga jarak
Tapi pada kenyataanya, seperti itu adanya
Perlahan dan kutau itu pasti
Kamu mulai menarik diri dari semua yang berhubungan tentang ku
Bahkan jika ku tak meminta pasti aku sudah kau hapus dari memori mu
Menghilangkanku, bagimu pasti sangat mudah bukan?

Bukan nya aku mengasihi diri
Justru ini, pemahaman diri
Pemahaman kapasitasku dimatamu
Dan aku sadar memang aku tak pernah penting untukmu
Malam ini, detik ini, aku mulai sadar
Kamu memang benar - benar tak menginginkanku
Meski hati ku masih sangat mencintaimu...


Sabtu, 25 Januari 2020

Sepagi ini aku sudah rindu
Rindu aku, yang dengan mudah mengirim pesan tak jelas untukmu
Rindu aku, yang tanpa berpikir balasanmu
Yang jelas aku ngerasa tak sendiri
Jika pesan itu sudah terkirim
Tak peduli apakah kau balas atau tidak
Dan aku bisa melalui hariku tanpa beban

Kini, tiba saatnya aku harus menahan
Sekedar mengirim pesan saja begitu mudah membuat air mata ku jatuh
Dan pada akhirnya aku hanya melihat online mu yang tentunya bukan untukku

Bodoh memang,
Kenapa bangkit semenyakitkan ini?
Tak bisa kah kau lihat sedikit saja tulusnya hatiku?
Aku yang terlajur menikmati nyamanmu  yang ternyata bukan cuma untukku
Terjebak fiendzone terasa begitu menyiksaku
Aku yang membencimu tapi juga tak bisa kehilanganmu
Ingin rasanya aku bisa tertidur nyenyak dimalam hari dan tak pernah bangun kembali
Hingga aku lupa apa itu rasanya patah hati!

Pada akhirnya aku dipaksa untuk mengerti
Dipaksa untuk memahami
Dan dipaksa untuk mengikhlaskan
Kamu yang tak lagi sama atau memang dari dulu tak pernah beda?
Mungkin benar ilusiku yang telah mempermainkanku
Menerbangkan kan ku ke langit hingga aku merasa menjadi orang yang paling beruntung saat itu
Mengalahkan logika yang harusnya memang kupegang erat
Namun, tak lama kemudian menjatuhkan ku dalam jurang yang begitu dalam
Hingga aku tak mampu untuk bangkit

Terasa berat harus mengikhlaskan atas apa yang terjadi setelahnya
Tangisku yang jatuh berkali-kali, pedihku yang memang harus ku tanggung sendiri
Akhirnya aku harus merasakan suatu hal yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku
Perih dan pedihku yang kini harus ku sembuhkan sendiri
Luka yang memang sudah semestinya ku obati dengan caraku sendiri
Bukan lagi melibatkan kamu, atau orang lain
Yang aku butuhkan sekarang hanyalah penerimaan diri
Bukan dengan membuka hati untuk yang lain
Melainkan aku harus mengembalikan kepingan patah agar bisa utuh kembali
Memulihkan diri dengan mencintai diri sendiri
Berdamai dengan diri sendiri meski keadaan tak lagi sesuai harapan

Semoga bahagiamu segera datang
Meski bukan bersamaku
Aku harap senyummu tak pernah pudar
Walau tak ku pungkiri namamu masih menjadi list terdepanku kepada sang pemilik hati
Egois memang, tapi maaf
Mencintaimu mengharuskanku mengikhlaskan hal yang bahkan tak pernah kumiliki (GAPB)

With love
Ilafi

Kamis, 23 Januari 2020

Kamu, memang tak pernah bisa ku tebak
Selalu ada tembok yg seakan mengahalangi untukku mendekat
Memang hanya sampai disini
Bisa mengenalmu
Banyak kata yg ingin ku tulis
Namun, melihat jawabanmu menutup mulutku rapat2
Hanya satu pintaku Tuhan,
Damaikanlah hatiku dg dia
Dia yg tak mungkin bisa kumiliki
Tenteramkanlah hatiku saat aku tau dia telah ada yg punya suatu saat nanti
Dan pada akhirnya aku tau perjuangan ku hanyalah sebatas langkah kaki

BadNight

25 November 2019

Dear :
Kamu yang selalu ku cinta

Hai kamu, apa kabar? Gimana harimu kali ini? Apakah menyenangkan? Atau ada hal yang membuatmu sedih dan badmood? Jika diizinkan bertanya, pasti banyak tanya yang terucap dari mulutku ini. Akan banyak hal yang bahkan tak penting menurutmu untuk ku tanyakan. Namun, bagiku setiap detik dalam nafasmu sangat berarti untukku dan sangat amat ingin ku tau.

Hari ini, kembali lagi ke saat dimana aku merasa asing dengan mu. Kembali pada saat kamu terlalu acuh akan tanyaku. Banyak prasangka yang terlintas hingga memenuhi isi otakku malam ini.

Apa kamu sudah bosan dekat denganku?
Apa kamu sudah menemukan tempat lain untuk berbagi lelahmu?
Apa kamu ingin menjauhiku?
Atau, apakah sekedar tak ada lagi rasa penasaran akan diriku?
Dan prasangka-prasangka lainnya yang aku sendiri tak pernah tau kebenarannya.

Memang, seharusnya aku sadar akan kapasitasku. Hanya kau anggap sebagai sahabat yang mustahil untuk ku meminta lebih. Meskipun kamu aku anggap segalanya, tapi pada kenyataannya aku tak pernah kau anggap ada.

Aku, hanya seorang sahabat yang kau butuhkan saat kau tak punya yang lain untuk bersandar. Walau sejauh ini, aku sudah bahagia bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercanda lepas dan tak berpikir akan menyakiti. Memandangmu tanpa rasa canggung, menggandeng tanganmu tanpa rasa malu dan sekedar memaksa memintamu menemaniku kala malam terasa begitu menyiksa tanpa harus berpikir panjang.

Itu semua, sudah membuatku bahagia. Meskipun pada akhirnya aku tau apapun yang kita bicarakan dan apapun yang kita lakukan tak pernah ada artinya sama sekali dimatamu. Sekeras apapun aku mencoba meyakinkanmu akan rasa ini, sekeras itu juga kau meyakinkanku akan siapa kita dan bagaimana hubungan kita.

Sakit memang,
Hanya sekedar membaca tulisan "sahabat" di chat mu sudah mampu membuat hatiku hancur berkeping-keping. Membuatku berpikir "Oh, jadi selama ini aku tak pernah sekalipun menjadi spesial itu dimatamu".

Aku tau, aku telah melakukan kesalahan besar selama ini. Sudah berani mencintaimu. Seharusnya aku bisa membedakan, dan aku bisa menahan rasa ini. Maaf kan aku. Maaf, aku telah lancang jatuh cinta padamu hingga sedalam ini. Maaf, aku telah menodai persahabatan ini. Aku paham dan aku sadar seharusnya rasa ini tak pernah ada diantara kita. Namun, aku tak pernah bisa memilih dg siapa aku akan jatuh cinta. Sekali lagi maaf.

Aku sadar, aku hanyalah gadis biasa yang tak kan pernah pantas di sampingmu lebih dari sahabat. Dari segi apapun, jelas aku tak pantas untukmu. Siapa aku, seperti apa aku, bagaimana keluargaku sudah jelas tak mungkin bisa meski hanya untuk sekedar berjajar.

Tapi, terimakasih ya. Kamu telah bisa kembali membuka hatiku setelah sekian lama tak terbuka. Meski sakit saat ini, tapi aku yakin suatu saat nanti akan sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Aku yakin hatiku akan merajut lukanya sendiri dengan melihatmu tersenyum meski bukan karna aku. Terimakasih telah mengajariku banyak hal yang sebelumnya belum ku tau. Terimakasih telah membuka pemikiranku akan hal-hal baru dalam kehidupan ini. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan singkat ini. Dan terimakasih telah mengajariku bagaimana caranya untuk tulus mencintai tanpa memaksa untuk dicintai.

Malam ini, aku jadi pecundang lagi karna kembali menulis tentang mu disini. Yang pasti kamu tak akan pernah akan tau sampai kapanpun. Entah sampai kapan, kamu akan selalu jadi tema favorite ku untuk menulis. Merindumu adalah hal yang begitu menyiksaku malam ini. Hanya lewat tulisan ini, aku bisa meluapkan apapun yang ada dalam hatiku, yah walau tidak semuanya bisa ku tulis disini. Semoga suatu saat nanti kamu bisa tau apa yang aku rasa kali ini. Semoga Tuhan masih mengizinkanku dan memberiku keberanian untuk berbicara langsung denganmu.

Jangan khawatirkan aku ya, aku pasti baik-baik saja nantinya tanpa mu. Tetap tersenyum ya, jangan biarkan aku sedih hanya karna kamu tak lagi bisa tersenyum.

Aku selalu merindukanmu. Terlebih malam ini.(gapb)

From the bottom of my heart❤️

Senin, 13 Januari 2020

Sebenarnya masih teringat jelas pertama kali kita bertegur sapa setelah sekian lama. Atau mungkin aku yang selalu mencoba mengingatnya dan pada akhirnya tak mau lupa? Entahlah, yang jelas aku masih menikmati untuk mengingatnya. Mengingat tentang kita yang tadinya asing, kita yang tadinya tidak saling peduli, dan kita yang acuh satu sama lain. Yah, waktu itu memang kita sama-sama sibuk dengan dunia kita masing-masing. 

Hingga sampai pada hari dimana semesta selalu menakdirkan kita untuk bertemu. Tentunya dengan intensitas waktu yang lebih sering dari sebelumnya. Jika diingat lagi, dulu... Sebelum sedekat sekarang, aku tak memiliki memory sedikitpun tentang kamu dan tentang kita di masa lalu. Entah karna aku yang pelupa, atau memang kita tak pernah duduk berdua berbicara sekedar tugas yang kita kerjakan. Meski seharusnya kita sering bersama. Dan kini, aku susah payah mengingat kembali kenangan apa yang bisa terekam, namun hasilnya sudah jelas. Kosong. Tak sedikit pun ingatan tentang masa itu yang bisa ku pulihkan. Mungkin karna itu, aku menolak lupa akan sedikit kenangan kita yang sudah ku pastikan tak berarti apa-apa dimatamu. Bahkan dengan bodohnya aku masih mengingat apa pun yang kita bicarakan saat itu. Saat kita mulai berbicara berdua, mengenang masa dulu yang sebenarnya aku pun tak begitu ingat jelas. Saat itu, kita hanya menertawakan tentang kita yang sebelumnya. Tentang kekonyolan teman-teman dulu kala, tentang kebodohan-kebodohan lainnya yang sengaja atau tanpa sengaja menjadi kenangan tersendiri. Melompat dari perihal satu ke perihal lainnya, seakan tak pernah bosan.

Hingga pada suatu titik dimana kamu telah memecahkan pemikiranku tentang kamu yang telah tertanam kokoh dari masa kecil. Mulai dari sana semua seakan telah berubah. Kamu memaksaku memutar otak ku dan mengulang kembali pemikiranku tentangmu. Sudah jelas, semua berbeda, bahkan hingga 180 derajat perbedaan yang ku lihat. Hingga pertanyaan-pertanyaan sederhana selalu muncul di otakku. Apakah benar kamu sudah berubah? Atau mungkin aku yang terlalu menguatkan pikiranku tentangmu yang masih sama seperti dulu? Bodoh ya? Pikirku kamu masih sama seperti dulu, kamu yang egois, kamu yang tidak pernah peduli, kamu yang sombong, kamu yang angkuh, kamu yang nakal, dan kamu yang acuh akan sekitar. Yah, tadinya aku masih pada kesimpulanku dulu, kamu adalah orang yang memang perlu aku jauhi. Dan sekarang, semua tanyaku perlahan memperoleh jawabannya. Ternyata kamu memang sudah tak seperti dulu lagi. Meski terkadang kamu kekeh mempertahankan dan mencoba meyakinkanku jika kamu itu buruk atau bahkan terburuk dari yang buruk. Tapi aku tau, kamu hanya berpura-pura menjadi jahat. Jauh didalam lubuk hatimu, aku tau kamu adalah orang terbaik yang pernah aku kenal, meski cara yang kamu ambil terkadang menunjukkan sebaliknya. Ah entahlah, pembenaranku akan semua sikapmu ini memang wajar atau karna aku yang sudah terlanjur jatuh terlalu dalam?

Hari-hari yang semesta berikan untuk kita bersama, semakin menguatkan rasa yang tak kuasa tercipta dalam diriku. Kamu seolah menjadi candu bagiku yang semakin terbiasa akan hadirmu. Menemani detik ku meski aku yang meminta. Aku tak pernah tau, kamu memang mau atau hanya sekedar tak enak hati menolak permintaanku. Aku yang setiap malam selau datang bagaikan mimpi burukmu yang hanya mengganggu ketenangan malammu. Jika aku ada kesempatan untuk kembali ke waktu itu, aku hanya akan minta maaf jika hadirku selalu tak kau inginkan. Jujur aku tak tau awalnya, kenapa aku jadi seperti ini. Aku yang menjadi semakin sering merindukanmu, aku yang menjadi semakin ingin menghabiskan waktu bersamamu dan aku yang menjadi bodoh dengan chatku yang mungkin menurutmu aneh dan tak perlu balasan.

Tanyaku dalam hati selalu tentang "Apakah ini cinta? Atau aku hanya tertarik untuk sementara?" Tapi bukan kah jika itu hanya sementara tak akan bertahan sampai selama ini?" Iya, memang benar aku sekarang sadar dan aku yakin ini cinta. Cinta yang seharusnya tak aku miliki. Cinta yang tak seharuanya aku biarkan tumbuh semakin subur dihatiku. Cinta yang seharusnya memang tidak ku berikan untukmu yang pada kenyataanya memang hanya menganggapku sebagai sahabat. Aku mengaku kalah denganmu soal hati, ternyata aku tak sekuat kamu, aku tak setegar kamu dan ternyata aku serapuh ini, semudah ini aku jatuh cinta padamu. Bahkan, rasa ini telah terlalu dalam tertanam. Dan kamu yang tak pernah sedikitpun menaruh rasa atas apa yang aku perbuat untukmu. Terkadang terpikir olehku "Ah apa aku setidak menarik itu kah dimatamu?". Aku tau perempuan yang dekat denganmu banyak, dan yang menyukaimu tentunya bukan hanya aku. Tapi ke egoisan ku selalu menuntunku dan menguatkanku bahwa aku pantas untukmu, aku pantas mendampingimu daripada gadis lainnya. Itu yang membuat ku bertahan sampai saat ini. Bertahan dengan kesetiaanku meski pada ketidakpastian.

Aku yang tak mampu mengungkapkan pun tak kuasa untuk melepaskan dan mengikhlaskan mu kembali seperti dulu. Mungkin aku pandai bersandiwara di depanmu seolah tak terjadi apa-apa pada diriku. Hingga kamu tak pernah mengerti apa yang aku rasakan sebenarnya.

Sudah hampir setahun kita sampai sedekat ini. Aku yang semakin hari semakin terjatuh, dan kamu yang perlahan menjauh. Mungkin saat ini hati ku sampai di titik terlelahku. Aku lelah dengan penantian tak berujung ini. Beribu kali aku mencoba untuk mengungkapkan semua isi hatiku, dan masa bodoh dengan apa yang akan kamu katakan nantinya. Tapi lagi lagi semesta selalu tak berpihak padaku dan pada keadaanku. Selalu ada hal lain yang jauh dari kuasaku untuk menolaknya. Dan lagi mulutku yang tak bisa berkata dihadapanmu. Banyak tapi yang terlintas disaat aku berniat untuk memberitahu hal ini. Aku yang masih menikmati hari bersamamu. Aku yang masih nyaman berada dipelukmu. Aku yang masih bisa melihat senyummu. Aku yang belum siap untuk kehilanganmu. Aku yang belum siap untuk menjadi asing. Aku yang belum siap untuk jauh darimu. Dan aku yang belum mampu menerima kepergianmu jika memang kamu ingin pergi.

Semua tapi itu masih tersimpan rapi hingga saatnya nanti kamu akan mengetahui semuanya. Berjuta maafku untukmu karna aku telah berani mencintaimu. Jika memang nantinya kamu tak bisa membalas rasaku dan memang kita tak berjodoh, aku harap kamu bisa membaca tulisan ku ini. Dan kamu tau aku pernah begitu dalam mencintaimu! Pun jika aku harus mengikhlaskanmu, aku akan melakukannya dengan senyuman terindahku.

Aku masih mencintaimu dan akan selalu mencintaimu (GAPB)

Minggu, 12 Januari 2020

Sampai saat ini pun aku tak mampu untuk sekedar berbicara tentang kita. Oh, mungkin lebih tepatnya tentang aku. Tentang aku yang terlanjut terjatuh. Terjatuh begitu dalam perihal mencintaimu. Dihadapanmu mulutku membisu, seakan tak berdaya untuk memulai. Beribu kali ku mencoba, namun disana selalu ada ketakutan ku akan kita yang nantinya malah menjadi asing. Aku belum siap secepat ini kembali ke masa dulu dimana aku tak peduli tentang mu. Aku yang belum menyayangimu. Kita yang tak peduli satu sama lain. Dan kamu dengan rasamu yang sama sampai saat ini.  Apa aku bisa? Apa aku sanggup? Setelah sedekat ini? Kamu akan hilang dan lenyap dari hidupku begitu saja? Maaf, lagi lagi aku belum siap untuk itu. Aku terlalu menikmati hari-hari bersama kabarmu, bersama hadirmu, dan bersama pelukmu. Meski aku tau, bagimu tak lebih dari sahabat. Egoku yang tak ingin melepaskanmu meski aku tak pernah memilikimu. Kamu terlalu indah untuk ku lepas, tapi semakin ku genggam rasa ini semakin menyakitiku perlahan. Harapanku tentangmu mungkin memang hanya akan menjadi sebuah harapan semu. Sedalam apapun rasa ku ini, tak akan pernah bisa merobohkan tembok baja yang terbangun kuat di hatimu. Bahkan aku rasa semesta pun tak menyetujui kita untuk bersama. Aku selalu menunggu saat dimana aku bisa dengan mudah mengatakan ini padamu. Saat dimana mulutku tak terdiam dihadapanmu. Dan saat dimana aku harus tersenyum ikhlas melepasmu. Membersamaimu dalam ikatan sahabat atau mungkin sekedar teman biasa seperti dulu kala. Ku mohon, jangan pergi dariku saat kau tau kesalahan terbesarku. Yaitu mencintaimu!.
I have tried a million time to forget you.
I have tried a million time to run.
I have tried a million time to hate you.
But,
All I get only hurts me more
My feelings fell deeper and deeper 
Sorry, I can't lose you ;(

Hai kamu,
Apa kamu tau?
Aku selalu merindukanmu
Merindukan akan wajahmu
Merindukan akan hadirmu
Merindukan akan kita
Meski tak banyak memory bersama
Aku selalu melakukannya dan tentunya mengulangnya tanpa ku mau
Entah sampai kapan kamu tak akan percaya
Candaku sekarang sesungguhnya nyata
Maaf, aku merindukanmu (lagi)

Selasa, 07 Januari 2020

Dan lagi..
Aku selalu terbunuh dengan ekspektasiku
Selalu kecewa dengan harapanku
Seharusnya aku sadar siapa aku
Tanpa harus kau tegaskan dengan acuhmu

Mungkin memang benar
Aku tak lebih pengisi luangmu dulu
Yang kini telah berubah menjadi keterpaksaanmu

Jika kamu tau,
Aku selalu takut jika malam tiba
Aku takut aku tak bisa menepiskan rasa ini seperti malam sebelumnya
Maaf, aku yang tak pernah memberimu ruang untuk sendiri

Kamis, 02 Januari 2020

Dan lagi...
Perihal ingin pergi 
Perihal ingin seperti dulu
Perihal ingin biasa saja
Perihal ingin memaklumi
Kenapa sesakit ini
Kenapa sesesak ini
Kamu sudah tak peduli
Kenapa aku masih tetap disini
Menikmati sakit yang tentunya ku buat sendiri