Senin, 13 Januari 2020

Sebenarnya masih teringat jelas pertama kali kita bertegur sapa setelah sekian lama. Atau mungkin aku yang selalu mencoba mengingatnya dan pada akhirnya tak mau lupa? Entahlah, yang jelas aku masih menikmati untuk mengingatnya. Mengingat tentang kita yang tadinya asing, kita yang tadinya tidak saling peduli, dan kita yang acuh satu sama lain. Yah, waktu itu memang kita sama-sama sibuk dengan dunia kita masing-masing. 

Hingga sampai pada hari dimana semesta selalu menakdirkan kita untuk bertemu. Tentunya dengan intensitas waktu yang lebih sering dari sebelumnya. Jika diingat lagi, dulu... Sebelum sedekat sekarang, aku tak memiliki memory sedikitpun tentang kamu dan tentang kita di masa lalu. Entah karna aku yang pelupa, atau memang kita tak pernah duduk berdua berbicara sekedar tugas yang kita kerjakan. Meski seharusnya kita sering bersama. Dan kini, aku susah payah mengingat kembali kenangan apa yang bisa terekam, namun hasilnya sudah jelas. Kosong. Tak sedikit pun ingatan tentang masa itu yang bisa ku pulihkan. Mungkin karna itu, aku menolak lupa akan sedikit kenangan kita yang sudah ku pastikan tak berarti apa-apa dimatamu. Bahkan dengan bodohnya aku masih mengingat apa pun yang kita bicarakan saat itu. Saat kita mulai berbicara berdua, mengenang masa dulu yang sebenarnya aku pun tak begitu ingat jelas. Saat itu, kita hanya menertawakan tentang kita yang sebelumnya. Tentang kekonyolan teman-teman dulu kala, tentang kebodohan-kebodohan lainnya yang sengaja atau tanpa sengaja menjadi kenangan tersendiri. Melompat dari perihal satu ke perihal lainnya, seakan tak pernah bosan.

Hingga pada suatu titik dimana kamu telah memecahkan pemikiranku tentang kamu yang telah tertanam kokoh dari masa kecil. Mulai dari sana semua seakan telah berubah. Kamu memaksaku memutar otak ku dan mengulang kembali pemikiranku tentangmu. Sudah jelas, semua berbeda, bahkan hingga 180 derajat perbedaan yang ku lihat. Hingga pertanyaan-pertanyaan sederhana selalu muncul di otakku. Apakah benar kamu sudah berubah? Atau mungkin aku yang terlalu menguatkan pikiranku tentangmu yang masih sama seperti dulu? Bodoh ya? Pikirku kamu masih sama seperti dulu, kamu yang egois, kamu yang tidak pernah peduli, kamu yang sombong, kamu yang angkuh, kamu yang nakal, dan kamu yang acuh akan sekitar. Yah, tadinya aku masih pada kesimpulanku dulu, kamu adalah orang yang memang perlu aku jauhi. Dan sekarang, semua tanyaku perlahan memperoleh jawabannya. Ternyata kamu memang sudah tak seperti dulu lagi. Meski terkadang kamu kekeh mempertahankan dan mencoba meyakinkanku jika kamu itu buruk atau bahkan terburuk dari yang buruk. Tapi aku tau, kamu hanya berpura-pura menjadi jahat. Jauh didalam lubuk hatimu, aku tau kamu adalah orang terbaik yang pernah aku kenal, meski cara yang kamu ambil terkadang menunjukkan sebaliknya. Ah entahlah, pembenaranku akan semua sikapmu ini memang wajar atau karna aku yang sudah terlanjur jatuh terlalu dalam?

Hari-hari yang semesta berikan untuk kita bersama, semakin menguatkan rasa yang tak kuasa tercipta dalam diriku. Kamu seolah menjadi candu bagiku yang semakin terbiasa akan hadirmu. Menemani detik ku meski aku yang meminta. Aku tak pernah tau, kamu memang mau atau hanya sekedar tak enak hati menolak permintaanku. Aku yang setiap malam selau datang bagaikan mimpi burukmu yang hanya mengganggu ketenangan malammu. Jika aku ada kesempatan untuk kembali ke waktu itu, aku hanya akan minta maaf jika hadirku selalu tak kau inginkan. Jujur aku tak tau awalnya, kenapa aku jadi seperti ini. Aku yang menjadi semakin sering merindukanmu, aku yang menjadi semakin ingin menghabiskan waktu bersamamu dan aku yang menjadi bodoh dengan chatku yang mungkin menurutmu aneh dan tak perlu balasan.

Tanyaku dalam hati selalu tentang "Apakah ini cinta? Atau aku hanya tertarik untuk sementara?" Tapi bukan kah jika itu hanya sementara tak akan bertahan sampai selama ini?" Iya, memang benar aku sekarang sadar dan aku yakin ini cinta. Cinta yang seharusnya tak aku miliki. Cinta yang tak seharuanya aku biarkan tumbuh semakin subur dihatiku. Cinta yang seharusnya memang tidak ku berikan untukmu yang pada kenyataanya memang hanya menganggapku sebagai sahabat. Aku mengaku kalah denganmu soal hati, ternyata aku tak sekuat kamu, aku tak setegar kamu dan ternyata aku serapuh ini, semudah ini aku jatuh cinta padamu. Bahkan, rasa ini telah terlalu dalam tertanam. Dan kamu yang tak pernah sedikitpun menaruh rasa atas apa yang aku perbuat untukmu. Terkadang terpikir olehku "Ah apa aku setidak menarik itu kah dimatamu?". Aku tau perempuan yang dekat denganmu banyak, dan yang menyukaimu tentunya bukan hanya aku. Tapi ke egoisan ku selalu menuntunku dan menguatkanku bahwa aku pantas untukmu, aku pantas mendampingimu daripada gadis lainnya. Itu yang membuat ku bertahan sampai saat ini. Bertahan dengan kesetiaanku meski pada ketidakpastian.

Aku yang tak mampu mengungkapkan pun tak kuasa untuk melepaskan dan mengikhlaskan mu kembali seperti dulu. Mungkin aku pandai bersandiwara di depanmu seolah tak terjadi apa-apa pada diriku. Hingga kamu tak pernah mengerti apa yang aku rasakan sebenarnya.

Sudah hampir setahun kita sampai sedekat ini. Aku yang semakin hari semakin terjatuh, dan kamu yang perlahan menjauh. Mungkin saat ini hati ku sampai di titik terlelahku. Aku lelah dengan penantian tak berujung ini. Beribu kali aku mencoba untuk mengungkapkan semua isi hatiku, dan masa bodoh dengan apa yang akan kamu katakan nantinya. Tapi lagi lagi semesta selalu tak berpihak padaku dan pada keadaanku. Selalu ada hal lain yang jauh dari kuasaku untuk menolaknya. Dan lagi mulutku yang tak bisa berkata dihadapanmu. Banyak tapi yang terlintas disaat aku berniat untuk memberitahu hal ini. Aku yang masih menikmati hari bersamamu. Aku yang masih nyaman berada dipelukmu. Aku yang masih bisa melihat senyummu. Aku yang belum siap untuk kehilanganmu. Aku yang belum siap untuk menjadi asing. Aku yang belum siap untuk jauh darimu. Dan aku yang belum mampu menerima kepergianmu jika memang kamu ingin pergi.

Semua tapi itu masih tersimpan rapi hingga saatnya nanti kamu akan mengetahui semuanya. Berjuta maafku untukmu karna aku telah berani mencintaimu. Jika memang nantinya kamu tak bisa membalas rasaku dan memang kita tak berjodoh, aku harap kamu bisa membaca tulisan ku ini. Dan kamu tau aku pernah begitu dalam mencintaimu! Pun jika aku harus mengikhlaskanmu, aku akan melakukannya dengan senyuman terindahku.

Aku masih mencintaimu dan akan selalu mencintaimu (GAPB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar