Kamis, 23 Januari 2020

BadNight

25 November 2019

Dear :
Kamu yang selalu ku cinta

Hai kamu, apa kabar? Gimana harimu kali ini? Apakah menyenangkan? Atau ada hal yang membuatmu sedih dan badmood? Jika diizinkan bertanya, pasti banyak tanya yang terucap dari mulutku ini. Akan banyak hal yang bahkan tak penting menurutmu untuk ku tanyakan. Namun, bagiku setiap detik dalam nafasmu sangat berarti untukku dan sangat amat ingin ku tau.

Hari ini, kembali lagi ke saat dimana aku merasa asing dengan mu. Kembali pada saat kamu terlalu acuh akan tanyaku. Banyak prasangka yang terlintas hingga memenuhi isi otakku malam ini.

Apa kamu sudah bosan dekat denganku?
Apa kamu sudah menemukan tempat lain untuk berbagi lelahmu?
Apa kamu ingin menjauhiku?
Atau, apakah sekedar tak ada lagi rasa penasaran akan diriku?
Dan prasangka-prasangka lainnya yang aku sendiri tak pernah tau kebenarannya.

Memang, seharusnya aku sadar akan kapasitasku. Hanya kau anggap sebagai sahabat yang mustahil untuk ku meminta lebih. Meskipun kamu aku anggap segalanya, tapi pada kenyataannya aku tak pernah kau anggap ada.

Aku, hanya seorang sahabat yang kau butuhkan saat kau tak punya yang lain untuk bersandar. Walau sejauh ini, aku sudah bahagia bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercanda lepas dan tak berpikir akan menyakiti. Memandangmu tanpa rasa canggung, menggandeng tanganmu tanpa rasa malu dan sekedar memaksa memintamu menemaniku kala malam terasa begitu menyiksa tanpa harus berpikir panjang.

Itu semua, sudah membuatku bahagia. Meskipun pada akhirnya aku tau apapun yang kita bicarakan dan apapun yang kita lakukan tak pernah ada artinya sama sekali dimatamu. Sekeras apapun aku mencoba meyakinkanmu akan rasa ini, sekeras itu juga kau meyakinkanku akan siapa kita dan bagaimana hubungan kita.

Sakit memang,
Hanya sekedar membaca tulisan "sahabat" di chat mu sudah mampu membuat hatiku hancur berkeping-keping. Membuatku berpikir "Oh, jadi selama ini aku tak pernah sekalipun menjadi spesial itu dimatamu".

Aku tau, aku telah melakukan kesalahan besar selama ini. Sudah berani mencintaimu. Seharusnya aku bisa membedakan, dan aku bisa menahan rasa ini. Maaf kan aku. Maaf, aku telah lancang jatuh cinta padamu hingga sedalam ini. Maaf, aku telah menodai persahabatan ini. Aku paham dan aku sadar seharusnya rasa ini tak pernah ada diantara kita. Namun, aku tak pernah bisa memilih dg siapa aku akan jatuh cinta. Sekali lagi maaf.

Aku sadar, aku hanyalah gadis biasa yang tak kan pernah pantas di sampingmu lebih dari sahabat. Dari segi apapun, jelas aku tak pantas untukmu. Siapa aku, seperti apa aku, bagaimana keluargaku sudah jelas tak mungkin bisa meski hanya untuk sekedar berjajar.

Tapi, terimakasih ya. Kamu telah bisa kembali membuka hatiku setelah sekian lama tak terbuka. Meski sakit saat ini, tapi aku yakin suatu saat nanti akan sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Aku yakin hatiku akan merajut lukanya sendiri dengan melihatmu tersenyum meski bukan karna aku. Terimakasih telah mengajariku banyak hal yang sebelumnya belum ku tau. Terimakasih telah membuka pemikiranku akan hal-hal baru dalam kehidupan ini. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan singkat ini. Dan terimakasih telah mengajariku bagaimana caranya untuk tulus mencintai tanpa memaksa untuk dicintai.

Malam ini, aku jadi pecundang lagi karna kembali menulis tentang mu disini. Yang pasti kamu tak akan pernah akan tau sampai kapanpun. Entah sampai kapan, kamu akan selalu jadi tema favorite ku untuk menulis. Merindumu adalah hal yang begitu menyiksaku malam ini. Hanya lewat tulisan ini, aku bisa meluapkan apapun yang ada dalam hatiku, yah walau tidak semuanya bisa ku tulis disini. Semoga suatu saat nanti kamu bisa tau apa yang aku rasa kali ini. Semoga Tuhan masih mengizinkanku dan memberiku keberanian untuk berbicara langsung denganmu.

Jangan khawatirkan aku ya, aku pasti baik-baik saja nantinya tanpa mu. Tetap tersenyum ya, jangan biarkan aku sedih hanya karna kamu tak lagi bisa tersenyum.

Aku selalu merindukanmu. Terlebih malam ini.(gapb)

From the bottom of my heart❤️

Tidak ada komentar:

Posting Komentar