Jumat, 31 Januari 2020

Hai kamu, selamat malam...
Udah lebih dari sepekan yah kita menjadi asing? Kamu, apa kabar? Bagaimana harimu tadi? Ada yang menarik kah? Adakah yang membuatmu tersenyum hari ini? Kalau boleh tau apa itu dan siapa mereka? Atau ada yg membuatmu sedih, marah, hingga tak enak hati? Disini aku masih tetap sama, cerewet dan bawel selalu ingin tau tentang keadaanmu. Maaf ya aku belum bisa jadi alasanmu bahagia bahkan untuk sekedar tersenyum sekalipun.

Bahkan sekarang aku tak cukup berani untuk menanyakan apapun yang ingin ku tau. Karna aku mengerti, kamu malas untuk menjawabnya dan mungkin tanyaku hanya akan membuatmu risih tentunya. Mangkannya, aku hanya menjadi pengecut yang menuliskannya di media ini. Disini aku bisa menulis apapun yang ingin aku katakan padamu. Yah, walau aku tak yakin tulisan ini akan kamu baca nantinya. Tapi bagiku setidaknya aku lega, meski semua tanyaku tak mendapatkan jawabannya. Memang semua tanya tak harus ada jaesbannya sekarang kan? Mungkin esok lusa atau entah kapan aku akan tau semua jawaban itu.

Hari ini, aku sudah lebih baik dari sebelumnya. Hati ku mulai tertata kembali meskipun jangan ditanya rasa itu masih tetap berada di tempat yang sama. Tapi jangan tertawa ya, sore tadi air mataku jatuh lagi. Entah mengapa tiba-tiba ngalir aja gitu. Sesak banget rasanya, berusaha tetap tegar memang tak semudah yang motivator bilang ya? Dan menjadi kuat pun tak segampang ekspektasiku. 

Namun, perlahan aku tersadar jika untuk saat ini, memang lebih baik kita jadi teman. Karna aku semakin tau, dunia kita memang berbeda. Setelah pertemuan kita kemarin, sebenarnya aku semakin takut kehilanganmu. Kamu tau kenapa? Karna kamu berubah. Aku tau, ini caramu membantuku melupakanmu dengan jaga jarak dariku. Ngga enak ya ternyata, disaat aku mencoba untuk biasa aja tapi kamu ngejauh gitu. Jika kamu tau, dicuekin, gak dianggap itu lebih menyakitkan. Apalagi kita berada di satu ruangan yang sama tapi seolah kamu mengaggapku tak ada. Sumpah itu sakit, hehe. Sampai-sampai hanya makan berdua aja kamu benar-benar sudah tak mau lagi. What the fuck hurts i felt. Tapi, aku paham situasi dan kondisinya. Di otakku hanya kata "Oh gini ternyata sebegitu tak mau nya ya?". Entah itu benar atau memang hanya perasaanku saja yang lagi tak stabil.

Perspektif tentang dewasa kita ternyata berbeda ya. Aku pikir dewasa itu, sahabat tetap sahabat meski salah satu tau yang lain menyimpan rasa, tetap bisa seperti sedia kala. Bisa bercanda, nggak garing apalagi ngejauh gini. Aku pikir kita tetap bisa seperti sebelumnya dengan mengesampingkan rasa yang ada. Ternyata menurutmu sebaliknya. Dewasa versimu dengan memaksaku untuk lupa. Lalu kamu bertingkah beda dan menjauh seperti ini. Aku sebenarnya tak paham seperti apa pola pikirmu. Apa aku yang terlalu percaya diri telah menganggapmu sebagai sahabat yang padahal sama sekali kau tak menganggapku demikian? Ah, mungkin definisi tentang sahabat kita berbeda. Seperti perbedaan tentang kata dewasa tadi. Hehe.. Eh, maaf ya. Aku bahas hal yang nggak begitu penting ini.

Hari ini kamu jadi pergi ke luar kota? Apakah sudah sampai? Semoga kamu tetap dalam lindunganNya ya dimanapun kamu berada. Pesan ku, hati-hati ya.. maaf aku tak sempat mengirimkannya sebelum kamu berangkat. Lagi-lagi aku tak berani :). 

Semoga hari ini menyenangkan buatmu. Maaf ya, aku belum juga bisa mengikhlaskanmu sepenuhnya. Tapi tenang, aku akan terus berusaha kok. Jika itu bisa mengembalikanmu menjadi kamu yang sebelumnya, aku pasti akan usahakan. 
Selamat istirahat, selamat malam.


*Aku yang selalu merindukanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar