Jumat, 31 Januari 2020

Hai kamu, selamat malam...
Udah lebih dari sepekan yah kita menjadi asing? Kamu, apa kabar? Bagaimana harimu tadi? Ada yang menarik kah? Adakah yang membuatmu tersenyum hari ini? Kalau boleh tau apa itu dan siapa mereka? Atau ada yg membuatmu sedih, marah, hingga tak enak hati? Disini aku masih tetap sama, cerewet dan bawel selalu ingin tau tentang keadaanmu. Maaf ya aku belum bisa jadi alasanmu bahagia bahkan untuk sekedar tersenyum sekalipun.

Bahkan sekarang aku tak cukup berani untuk menanyakan apapun yang ingin ku tau. Karna aku mengerti, kamu malas untuk menjawabnya dan mungkin tanyaku hanya akan membuatmu risih tentunya. Mangkannya, aku hanya menjadi pengecut yang menuliskannya di media ini. Disini aku bisa menulis apapun yang ingin aku katakan padamu. Yah, walau aku tak yakin tulisan ini akan kamu baca nantinya. Tapi bagiku setidaknya aku lega, meski semua tanyaku tak mendapatkan jawabannya. Memang semua tanya tak harus ada jaesbannya sekarang kan? Mungkin esok lusa atau entah kapan aku akan tau semua jawaban itu.

Hari ini, aku sudah lebih baik dari sebelumnya. Hati ku mulai tertata kembali meskipun jangan ditanya rasa itu masih tetap berada di tempat yang sama. Tapi jangan tertawa ya, sore tadi air mataku jatuh lagi. Entah mengapa tiba-tiba ngalir aja gitu. Sesak banget rasanya, berusaha tetap tegar memang tak semudah yang motivator bilang ya? Dan menjadi kuat pun tak segampang ekspektasiku. 

Namun, perlahan aku tersadar jika untuk saat ini, memang lebih baik kita jadi teman. Karna aku semakin tau, dunia kita memang berbeda. Setelah pertemuan kita kemarin, sebenarnya aku semakin takut kehilanganmu. Kamu tau kenapa? Karna kamu berubah. Aku tau, ini caramu membantuku melupakanmu dengan jaga jarak dariku. Ngga enak ya ternyata, disaat aku mencoba untuk biasa aja tapi kamu ngejauh gitu. Jika kamu tau, dicuekin, gak dianggap itu lebih menyakitkan. Apalagi kita berada di satu ruangan yang sama tapi seolah kamu mengaggapku tak ada. Sumpah itu sakit, hehe. Sampai-sampai hanya makan berdua aja kamu benar-benar sudah tak mau lagi. What the fuck hurts i felt. Tapi, aku paham situasi dan kondisinya. Di otakku hanya kata "Oh gini ternyata sebegitu tak mau nya ya?". Entah itu benar atau memang hanya perasaanku saja yang lagi tak stabil.

Perspektif tentang dewasa kita ternyata berbeda ya. Aku pikir dewasa itu, sahabat tetap sahabat meski salah satu tau yang lain menyimpan rasa, tetap bisa seperti sedia kala. Bisa bercanda, nggak garing apalagi ngejauh gini. Aku pikir kita tetap bisa seperti sebelumnya dengan mengesampingkan rasa yang ada. Ternyata menurutmu sebaliknya. Dewasa versimu dengan memaksaku untuk lupa. Lalu kamu bertingkah beda dan menjauh seperti ini. Aku sebenarnya tak paham seperti apa pola pikirmu. Apa aku yang terlalu percaya diri telah menganggapmu sebagai sahabat yang padahal sama sekali kau tak menganggapku demikian? Ah, mungkin definisi tentang sahabat kita berbeda. Seperti perbedaan tentang kata dewasa tadi. Hehe.. Eh, maaf ya. Aku bahas hal yang nggak begitu penting ini.

Hari ini kamu jadi pergi ke luar kota? Apakah sudah sampai? Semoga kamu tetap dalam lindunganNya ya dimanapun kamu berada. Pesan ku, hati-hati ya.. maaf aku tak sempat mengirimkannya sebelum kamu berangkat. Lagi-lagi aku tak berani :). 

Semoga hari ini menyenangkan buatmu. Maaf ya, aku belum juga bisa mengikhlaskanmu sepenuhnya. Tapi tenang, aku akan terus berusaha kok. Jika itu bisa mengembalikanmu menjadi kamu yang sebelumnya, aku pasti akan usahakan. 
Selamat istirahat, selamat malam.


*Aku yang selalu merindukanmu

Senin, 27 Januari 2020

Malam ini aku tak mengerti
Apa yang sebenarnya ku mau
Apa yang sebenarnya ku lakukan
Dan kenapa aku seperti ini
Mengingatmu sudah kupastikan aku terluka
Tapi, merindukanmu aku tak kunjung jera

Dihadapanmu, seolah aku lupa
Lupa akan rasa yang sebenarnya masih ada
Berusaha tegar ternyata tak mudah bagiku
Menunggu kabarmu masih menjadi candu bagiku malam ini
Meskipun aku tau, online mu bukanlah untukku
Jika boleh ku tebak, aku hanya menjadi orang terakhir yang kau balas chatnya dengan semaumu
Benar kan?

Yahh, memang seperti sebelumnya begitu
Aku saja yang tak tau malu meminta dipriotitaskan padahal bukan siapa-siapa
Apalagi, sekarang sudah tak ada lagi yang menarik dariku
Percakapan kita pun hanya berakhir dengan haha hehe hihi yang tak jelas apa itu artinya

Kamu bilang, kamu tak akan jaga jarak
Tapi pada kenyataanya, seperti itu adanya
Perlahan dan kutau itu pasti
Kamu mulai menarik diri dari semua yang berhubungan tentang ku
Bahkan jika ku tak meminta pasti aku sudah kau hapus dari memori mu
Menghilangkanku, bagimu pasti sangat mudah bukan?

Bukan nya aku mengasihi diri
Justru ini, pemahaman diri
Pemahaman kapasitasku dimatamu
Dan aku sadar memang aku tak pernah penting untukmu
Malam ini, detik ini, aku mulai sadar
Kamu memang benar - benar tak menginginkanku
Meski hati ku masih sangat mencintaimu...


Sabtu, 25 Januari 2020

Sepagi ini aku sudah rindu
Rindu aku, yang dengan mudah mengirim pesan tak jelas untukmu
Rindu aku, yang tanpa berpikir balasanmu
Yang jelas aku ngerasa tak sendiri
Jika pesan itu sudah terkirim
Tak peduli apakah kau balas atau tidak
Dan aku bisa melalui hariku tanpa beban

Kini, tiba saatnya aku harus menahan
Sekedar mengirim pesan saja begitu mudah membuat air mata ku jatuh
Dan pada akhirnya aku hanya melihat online mu yang tentunya bukan untukku

Bodoh memang,
Kenapa bangkit semenyakitkan ini?
Tak bisa kah kau lihat sedikit saja tulusnya hatiku?
Aku yang terlajur menikmati nyamanmu  yang ternyata bukan cuma untukku
Terjebak fiendzone terasa begitu menyiksaku
Aku yang membencimu tapi juga tak bisa kehilanganmu
Ingin rasanya aku bisa tertidur nyenyak dimalam hari dan tak pernah bangun kembali
Hingga aku lupa apa itu rasanya patah hati!

Pada akhirnya aku dipaksa untuk mengerti
Dipaksa untuk memahami
Dan dipaksa untuk mengikhlaskan
Kamu yang tak lagi sama atau memang dari dulu tak pernah beda?
Mungkin benar ilusiku yang telah mempermainkanku
Menerbangkan kan ku ke langit hingga aku merasa menjadi orang yang paling beruntung saat itu
Mengalahkan logika yang harusnya memang kupegang erat
Namun, tak lama kemudian menjatuhkan ku dalam jurang yang begitu dalam
Hingga aku tak mampu untuk bangkit

Terasa berat harus mengikhlaskan atas apa yang terjadi setelahnya
Tangisku yang jatuh berkali-kali, pedihku yang memang harus ku tanggung sendiri
Akhirnya aku harus merasakan suatu hal yang bahkan tak pernah terpikirkan olehku
Perih dan pedihku yang kini harus ku sembuhkan sendiri
Luka yang memang sudah semestinya ku obati dengan caraku sendiri
Bukan lagi melibatkan kamu, atau orang lain
Yang aku butuhkan sekarang hanyalah penerimaan diri
Bukan dengan membuka hati untuk yang lain
Melainkan aku harus mengembalikan kepingan patah agar bisa utuh kembali
Memulihkan diri dengan mencintai diri sendiri
Berdamai dengan diri sendiri meski keadaan tak lagi sesuai harapan

Semoga bahagiamu segera datang
Meski bukan bersamaku
Aku harap senyummu tak pernah pudar
Walau tak ku pungkiri namamu masih menjadi list terdepanku kepada sang pemilik hati
Egois memang, tapi maaf
Mencintaimu mengharuskanku mengikhlaskan hal yang bahkan tak pernah kumiliki (GAPB)

With love
Ilafi

Kamis, 23 Januari 2020

Kamu, memang tak pernah bisa ku tebak
Selalu ada tembok yg seakan mengahalangi untukku mendekat
Memang hanya sampai disini
Bisa mengenalmu
Banyak kata yg ingin ku tulis
Namun, melihat jawabanmu menutup mulutku rapat2
Hanya satu pintaku Tuhan,
Damaikanlah hatiku dg dia
Dia yg tak mungkin bisa kumiliki
Tenteramkanlah hatiku saat aku tau dia telah ada yg punya suatu saat nanti
Dan pada akhirnya aku tau perjuangan ku hanyalah sebatas langkah kaki

BadNight

25 November 2019

Dear :
Kamu yang selalu ku cinta

Hai kamu, apa kabar? Gimana harimu kali ini? Apakah menyenangkan? Atau ada hal yang membuatmu sedih dan badmood? Jika diizinkan bertanya, pasti banyak tanya yang terucap dari mulutku ini. Akan banyak hal yang bahkan tak penting menurutmu untuk ku tanyakan. Namun, bagiku setiap detik dalam nafasmu sangat berarti untukku dan sangat amat ingin ku tau.

Hari ini, kembali lagi ke saat dimana aku merasa asing dengan mu. Kembali pada saat kamu terlalu acuh akan tanyaku. Banyak prasangka yang terlintas hingga memenuhi isi otakku malam ini.

Apa kamu sudah bosan dekat denganku?
Apa kamu sudah menemukan tempat lain untuk berbagi lelahmu?
Apa kamu ingin menjauhiku?
Atau, apakah sekedar tak ada lagi rasa penasaran akan diriku?
Dan prasangka-prasangka lainnya yang aku sendiri tak pernah tau kebenarannya.

Memang, seharusnya aku sadar akan kapasitasku. Hanya kau anggap sebagai sahabat yang mustahil untuk ku meminta lebih. Meskipun kamu aku anggap segalanya, tapi pada kenyataannya aku tak pernah kau anggap ada.

Aku, hanya seorang sahabat yang kau butuhkan saat kau tak punya yang lain untuk bersandar. Walau sejauh ini, aku sudah bahagia bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercanda lepas dan tak berpikir akan menyakiti. Memandangmu tanpa rasa canggung, menggandeng tanganmu tanpa rasa malu dan sekedar memaksa memintamu menemaniku kala malam terasa begitu menyiksa tanpa harus berpikir panjang.

Itu semua, sudah membuatku bahagia. Meskipun pada akhirnya aku tau apapun yang kita bicarakan dan apapun yang kita lakukan tak pernah ada artinya sama sekali dimatamu. Sekeras apapun aku mencoba meyakinkanmu akan rasa ini, sekeras itu juga kau meyakinkanku akan siapa kita dan bagaimana hubungan kita.

Sakit memang,
Hanya sekedar membaca tulisan "sahabat" di chat mu sudah mampu membuat hatiku hancur berkeping-keping. Membuatku berpikir "Oh, jadi selama ini aku tak pernah sekalipun menjadi spesial itu dimatamu".

Aku tau, aku telah melakukan kesalahan besar selama ini. Sudah berani mencintaimu. Seharusnya aku bisa membedakan, dan aku bisa menahan rasa ini. Maaf kan aku. Maaf, aku telah lancang jatuh cinta padamu hingga sedalam ini. Maaf, aku telah menodai persahabatan ini. Aku paham dan aku sadar seharusnya rasa ini tak pernah ada diantara kita. Namun, aku tak pernah bisa memilih dg siapa aku akan jatuh cinta. Sekali lagi maaf.

Aku sadar, aku hanyalah gadis biasa yang tak kan pernah pantas di sampingmu lebih dari sahabat. Dari segi apapun, jelas aku tak pantas untukmu. Siapa aku, seperti apa aku, bagaimana keluargaku sudah jelas tak mungkin bisa meski hanya untuk sekedar berjajar.

Tapi, terimakasih ya. Kamu telah bisa kembali membuka hatiku setelah sekian lama tak terbuka. Meski sakit saat ini, tapi aku yakin suatu saat nanti akan sembuh sendiri seiring berjalannya waktu. Aku yakin hatiku akan merajut lukanya sendiri dengan melihatmu tersenyum meski bukan karna aku. Terimakasih telah mengajariku banyak hal yang sebelumnya belum ku tau. Terimakasih telah membuka pemikiranku akan hal-hal baru dalam kehidupan ini. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan singkat ini. Dan terimakasih telah mengajariku bagaimana caranya untuk tulus mencintai tanpa memaksa untuk dicintai.

Malam ini, aku jadi pecundang lagi karna kembali menulis tentang mu disini. Yang pasti kamu tak akan pernah akan tau sampai kapanpun. Entah sampai kapan, kamu akan selalu jadi tema favorite ku untuk menulis. Merindumu adalah hal yang begitu menyiksaku malam ini. Hanya lewat tulisan ini, aku bisa meluapkan apapun yang ada dalam hatiku, yah walau tidak semuanya bisa ku tulis disini. Semoga suatu saat nanti kamu bisa tau apa yang aku rasa kali ini. Semoga Tuhan masih mengizinkanku dan memberiku keberanian untuk berbicara langsung denganmu.

Jangan khawatirkan aku ya, aku pasti baik-baik saja nantinya tanpa mu. Tetap tersenyum ya, jangan biarkan aku sedih hanya karna kamu tak lagi bisa tersenyum.

Aku selalu merindukanmu. Terlebih malam ini.(gapb)

From the bottom of my heart❤️

Senin, 13 Januari 2020

Sebenarnya masih teringat jelas pertama kali kita bertegur sapa setelah sekian lama. Atau mungkin aku yang selalu mencoba mengingatnya dan pada akhirnya tak mau lupa? Entahlah, yang jelas aku masih menikmati untuk mengingatnya. Mengingat tentang kita yang tadinya asing, kita yang tadinya tidak saling peduli, dan kita yang acuh satu sama lain. Yah, waktu itu memang kita sama-sama sibuk dengan dunia kita masing-masing. 

Hingga sampai pada hari dimana semesta selalu menakdirkan kita untuk bertemu. Tentunya dengan intensitas waktu yang lebih sering dari sebelumnya. Jika diingat lagi, dulu... Sebelum sedekat sekarang, aku tak memiliki memory sedikitpun tentang kamu dan tentang kita di masa lalu. Entah karna aku yang pelupa, atau memang kita tak pernah duduk berdua berbicara sekedar tugas yang kita kerjakan. Meski seharusnya kita sering bersama. Dan kini, aku susah payah mengingat kembali kenangan apa yang bisa terekam, namun hasilnya sudah jelas. Kosong. Tak sedikit pun ingatan tentang masa itu yang bisa ku pulihkan. Mungkin karna itu, aku menolak lupa akan sedikit kenangan kita yang sudah ku pastikan tak berarti apa-apa dimatamu. Bahkan dengan bodohnya aku masih mengingat apa pun yang kita bicarakan saat itu. Saat kita mulai berbicara berdua, mengenang masa dulu yang sebenarnya aku pun tak begitu ingat jelas. Saat itu, kita hanya menertawakan tentang kita yang sebelumnya. Tentang kekonyolan teman-teman dulu kala, tentang kebodohan-kebodohan lainnya yang sengaja atau tanpa sengaja menjadi kenangan tersendiri. Melompat dari perihal satu ke perihal lainnya, seakan tak pernah bosan.

Hingga pada suatu titik dimana kamu telah memecahkan pemikiranku tentang kamu yang telah tertanam kokoh dari masa kecil. Mulai dari sana semua seakan telah berubah. Kamu memaksaku memutar otak ku dan mengulang kembali pemikiranku tentangmu. Sudah jelas, semua berbeda, bahkan hingga 180 derajat perbedaan yang ku lihat. Hingga pertanyaan-pertanyaan sederhana selalu muncul di otakku. Apakah benar kamu sudah berubah? Atau mungkin aku yang terlalu menguatkan pikiranku tentangmu yang masih sama seperti dulu? Bodoh ya? Pikirku kamu masih sama seperti dulu, kamu yang egois, kamu yang tidak pernah peduli, kamu yang sombong, kamu yang angkuh, kamu yang nakal, dan kamu yang acuh akan sekitar. Yah, tadinya aku masih pada kesimpulanku dulu, kamu adalah orang yang memang perlu aku jauhi. Dan sekarang, semua tanyaku perlahan memperoleh jawabannya. Ternyata kamu memang sudah tak seperti dulu lagi. Meski terkadang kamu kekeh mempertahankan dan mencoba meyakinkanku jika kamu itu buruk atau bahkan terburuk dari yang buruk. Tapi aku tau, kamu hanya berpura-pura menjadi jahat. Jauh didalam lubuk hatimu, aku tau kamu adalah orang terbaik yang pernah aku kenal, meski cara yang kamu ambil terkadang menunjukkan sebaliknya. Ah entahlah, pembenaranku akan semua sikapmu ini memang wajar atau karna aku yang sudah terlanjur jatuh terlalu dalam?

Hari-hari yang semesta berikan untuk kita bersama, semakin menguatkan rasa yang tak kuasa tercipta dalam diriku. Kamu seolah menjadi candu bagiku yang semakin terbiasa akan hadirmu. Menemani detik ku meski aku yang meminta. Aku tak pernah tau, kamu memang mau atau hanya sekedar tak enak hati menolak permintaanku. Aku yang setiap malam selau datang bagaikan mimpi burukmu yang hanya mengganggu ketenangan malammu. Jika aku ada kesempatan untuk kembali ke waktu itu, aku hanya akan minta maaf jika hadirku selalu tak kau inginkan. Jujur aku tak tau awalnya, kenapa aku jadi seperti ini. Aku yang menjadi semakin sering merindukanmu, aku yang menjadi semakin ingin menghabiskan waktu bersamamu dan aku yang menjadi bodoh dengan chatku yang mungkin menurutmu aneh dan tak perlu balasan.

Tanyaku dalam hati selalu tentang "Apakah ini cinta? Atau aku hanya tertarik untuk sementara?" Tapi bukan kah jika itu hanya sementara tak akan bertahan sampai selama ini?" Iya, memang benar aku sekarang sadar dan aku yakin ini cinta. Cinta yang seharusnya tak aku miliki. Cinta yang tak seharuanya aku biarkan tumbuh semakin subur dihatiku. Cinta yang seharusnya memang tidak ku berikan untukmu yang pada kenyataanya memang hanya menganggapku sebagai sahabat. Aku mengaku kalah denganmu soal hati, ternyata aku tak sekuat kamu, aku tak setegar kamu dan ternyata aku serapuh ini, semudah ini aku jatuh cinta padamu. Bahkan, rasa ini telah terlalu dalam tertanam. Dan kamu yang tak pernah sedikitpun menaruh rasa atas apa yang aku perbuat untukmu. Terkadang terpikir olehku "Ah apa aku setidak menarik itu kah dimatamu?". Aku tau perempuan yang dekat denganmu banyak, dan yang menyukaimu tentunya bukan hanya aku. Tapi ke egoisan ku selalu menuntunku dan menguatkanku bahwa aku pantas untukmu, aku pantas mendampingimu daripada gadis lainnya. Itu yang membuat ku bertahan sampai saat ini. Bertahan dengan kesetiaanku meski pada ketidakpastian.

Aku yang tak mampu mengungkapkan pun tak kuasa untuk melepaskan dan mengikhlaskan mu kembali seperti dulu. Mungkin aku pandai bersandiwara di depanmu seolah tak terjadi apa-apa pada diriku. Hingga kamu tak pernah mengerti apa yang aku rasakan sebenarnya.

Sudah hampir setahun kita sampai sedekat ini. Aku yang semakin hari semakin terjatuh, dan kamu yang perlahan menjauh. Mungkin saat ini hati ku sampai di titik terlelahku. Aku lelah dengan penantian tak berujung ini. Beribu kali aku mencoba untuk mengungkapkan semua isi hatiku, dan masa bodoh dengan apa yang akan kamu katakan nantinya. Tapi lagi lagi semesta selalu tak berpihak padaku dan pada keadaanku. Selalu ada hal lain yang jauh dari kuasaku untuk menolaknya. Dan lagi mulutku yang tak bisa berkata dihadapanmu. Banyak tapi yang terlintas disaat aku berniat untuk memberitahu hal ini. Aku yang masih menikmati hari bersamamu. Aku yang masih nyaman berada dipelukmu. Aku yang masih bisa melihat senyummu. Aku yang belum siap untuk kehilanganmu. Aku yang belum siap untuk menjadi asing. Aku yang belum siap untuk jauh darimu. Dan aku yang belum mampu menerima kepergianmu jika memang kamu ingin pergi.

Semua tapi itu masih tersimpan rapi hingga saatnya nanti kamu akan mengetahui semuanya. Berjuta maafku untukmu karna aku telah berani mencintaimu. Jika memang nantinya kamu tak bisa membalas rasaku dan memang kita tak berjodoh, aku harap kamu bisa membaca tulisan ku ini. Dan kamu tau aku pernah begitu dalam mencintaimu! Pun jika aku harus mengikhlaskanmu, aku akan melakukannya dengan senyuman terindahku.

Aku masih mencintaimu dan akan selalu mencintaimu (GAPB)

Minggu, 12 Januari 2020

Sampai saat ini pun aku tak mampu untuk sekedar berbicara tentang kita. Oh, mungkin lebih tepatnya tentang aku. Tentang aku yang terlanjut terjatuh. Terjatuh begitu dalam perihal mencintaimu. Dihadapanmu mulutku membisu, seakan tak berdaya untuk memulai. Beribu kali ku mencoba, namun disana selalu ada ketakutan ku akan kita yang nantinya malah menjadi asing. Aku belum siap secepat ini kembali ke masa dulu dimana aku tak peduli tentang mu. Aku yang belum menyayangimu. Kita yang tak peduli satu sama lain. Dan kamu dengan rasamu yang sama sampai saat ini.  Apa aku bisa? Apa aku sanggup? Setelah sedekat ini? Kamu akan hilang dan lenyap dari hidupku begitu saja? Maaf, lagi lagi aku belum siap untuk itu. Aku terlalu menikmati hari-hari bersama kabarmu, bersama hadirmu, dan bersama pelukmu. Meski aku tau, bagimu tak lebih dari sahabat. Egoku yang tak ingin melepaskanmu meski aku tak pernah memilikimu. Kamu terlalu indah untuk ku lepas, tapi semakin ku genggam rasa ini semakin menyakitiku perlahan. Harapanku tentangmu mungkin memang hanya akan menjadi sebuah harapan semu. Sedalam apapun rasa ku ini, tak akan pernah bisa merobohkan tembok baja yang terbangun kuat di hatimu. Bahkan aku rasa semesta pun tak menyetujui kita untuk bersama. Aku selalu menunggu saat dimana aku bisa dengan mudah mengatakan ini padamu. Saat dimana mulutku tak terdiam dihadapanmu. Dan saat dimana aku harus tersenyum ikhlas melepasmu. Membersamaimu dalam ikatan sahabat atau mungkin sekedar teman biasa seperti dulu kala. Ku mohon, jangan pergi dariku saat kau tau kesalahan terbesarku. Yaitu mencintaimu!.
I have tried a million time to forget you.
I have tried a million time to run.
I have tried a million time to hate you.
But,
All I get only hurts me more
My feelings fell deeper and deeper 
Sorry, I can't lose you ;(

Hai kamu,
Apa kamu tau?
Aku selalu merindukanmu
Merindukan akan wajahmu
Merindukan akan hadirmu
Merindukan akan kita
Meski tak banyak memory bersama
Aku selalu melakukannya dan tentunya mengulangnya tanpa ku mau
Entah sampai kapan kamu tak akan percaya
Candaku sekarang sesungguhnya nyata
Maaf, aku merindukanmu (lagi)

Selasa, 07 Januari 2020

Dan lagi..
Aku selalu terbunuh dengan ekspektasiku
Selalu kecewa dengan harapanku
Seharusnya aku sadar siapa aku
Tanpa harus kau tegaskan dengan acuhmu

Mungkin memang benar
Aku tak lebih pengisi luangmu dulu
Yang kini telah berubah menjadi keterpaksaanmu

Jika kamu tau,
Aku selalu takut jika malam tiba
Aku takut aku tak bisa menepiskan rasa ini seperti malam sebelumnya
Maaf, aku yang tak pernah memberimu ruang untuk sendiri

Kamis, 02 Januari 2020

Dan lagi...
Perihal ingin pergi 
Perihal ingin seperti dulu
Perihal ingin biasa saja
Perihal ingin memaklumi
Kenapa sesakit ini
Kenapa sesesak ini
Kamu sudah tak peduli
Kenapa aku masih tetap disini
Menikmati sakit yang tentunya ku buat sendiri