Senin, 24 Februari 2020

Tentang sebuah permohonan

Seseorang pernah bertanya kepadaku
"Jika saat ini Tuhan mengabulkan satu permohonanmu, apa yang akan kamu pinta?"
Lalu aku menjawab
Aku akan memohon untuk kebahagiaan seseorang yang selalu kusebut namanya dalam doaku
Lalu dia berkata
"Percaya kah kamu tentang sebuah ketulusan mencintai yang merasa bahagia hanya dengan melihat orang yang dicintai bahagia?"
Aku hanya tersenyum mendengarnya
Lalu dia melanjutkan
Puncak dari mencintai seseorang denga tulus adalah dengan mengikhlaskan dia bahagia meski tak sempat kamu memilikinya
Aku pun terdiam
Otakku dengan sengaja mengingatmu lagi
Mencintaimu mengajarkanku untuk lebih kuat dari sebelumnya
Tak apa jika memang Tuhan tidak mengizinkanku untuk memilikimu
Saat ini aku masih sedikit lega
Aku memang kehilangan raga dan jiwamu, yang bahkan belum sempat ku miliki
Namun aku baik-baik saja asal aku tak kehilanganmu dalam pelukan doa
Di ruang doa aku masih bisa memelukmu dengan erat
Meneriakkan namamu hingga aku tenggelam dalam lautan air mataku sendiri
Disana aku masih bisa mencintaimu sepuas-puasnya, sebesar-besarnya,seluas-luasnya dan selama-lamanya
Jika pada akhirnya Tuhan tetap tidak mengizinkanku memilikimu
Tak apa, Aku rela
Setidaknya Tuhan mengabulkan setiap doa-doa ku yang atas namamu, cinta.
Berbahagialah...
Kita,, adalah kisah yang telah usai 
Bahkan sebelum saling memiliki

♥️(gapb)

Sabtu, 22 Februari 2020

Sekarang, aku tak tau mengapa luka itu masih ada
Semakin terasa jika ada suatu hal yang bahkan bukan tentangmu tapi justru malah mengingatkanku denganmu
Mungkin,
Aku belum pernah merasakan sejauh ini berjarak denganmu
Tembok yang kau bangun semakin tinggi dan kokoh
Hingga memaksaku untuk selalu menebak apa yang ada di baliknya

Kau yang semakin tidak peduli akan ku
Membuatku semakin menyadari bahwa memang bukan aku yang kau izinkan masuk dalam hidupmu
Mengenalmu lebih dekat, dan membersamaimu hingga rambutmu memutih
Kepada kamu yang tak akan membaca tulisan ini
Karna sebanyak apapun waktu senggang yang kamu miliki
Tak pernah sedetik pun yang memang untukku

Tenang saja,
Sama sekali tak ada maksud apa-apa untukmu
Aku, tak akan marah tersebab olehmu
Apalagi menyalahkanmu karena tak bisa menerimaku
Tulisan ini hanya untuk membuat hatiku yang sesak penuh dengan semua tentangmu bisa sedikit merasa lega
Bisa merasakan kembali bernafas setelah sekian lama ku tahan
Karna aku sudah tak sanggup lagi menyimpannya baik di hati ataupun otakku
Keduanya sama-sama sepakat tak bisa lagi menampungnya
Oleh karenanya aku tuliskan bersama kata-kata

Jika pada akhirnya memang bukan aku yang kamu izinkan masuk di kehidupanmu
Aku mengaku kalah,
Meski belum juga hatiku menerima
Apabila suatu hari nanti kamu telah menemukan seseorang yang bukan aku
Yang kamu minta mendampingimu sepanjang usiamu

Maaf,
Sampai saat ini aku masih saja menunggumu
Mungkin jika semesta mengizinkan
Aku akan terus menunggu dan menanti kamu sepanjang sisa umurku
Namun jika tidak,
Sebelum aku benar-benar melangkah pergi menjauhimu
Izinkan aku menyampaikan rasa maafku yang mungkin sudah basi
Maaf jika aku telah mencintaimu begitu dalam
Yah, aku memang benar-benar kalah pada akhirnya
Satu-satunya pemenangnya adalah doaku untukmu
Doaku untuk senyummu dan kebahagiaanmu di sepanjang sisa waktu yang kamu miliki di dunia ini
Meskipun bukan dengan diriku


Jumat, 21 Februari 2020

Selamat malam,
Bagaimana harimu akhir-akhir ini? Apakah menyenangkan? Ku harap kamu sehat ya saat ini. Maaf, lagi-lagi aku masih menulis tentangmu. Malam ini ditemani hujan dan suara katak yang sahut menyahut menambah suasana syahdu yang kurasakan. Dan pastinya aku masih teringat tentang mu, tentang kita. 

Banyak tanya yang memang seharusnya tak usah ku pertanyakan. Perihal masa depan yang selalu membuatku cemas. Siapa nantinya yang akan membuat ku berhasil melupakanmu. Siapa orang beruntung yang bisa bersanding denganmu. Dan apakah kita memang tidak berjodoh. Sampai kapan aku selalu seperti ini. Mengingatmu seolah sudah menjadi pekerjaan favorite yang selalu ku sesali. Serta pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya yang membuat penyakit overthinking ku semakin menjadi-jadi.

Kamu tau apa yang ku lakukan jika aku ada dalam kondisi seperti ini? Yah, aku menulis, meluapkan apa saja yang ada di otakku. Melepaskan sebagian kecil bebanku lewat tulisan ini. Mungkin tak kan ada orang yang mengerti bahkan tak kan ada yang mau memahami. Oleh karnanya aku menulis, dimana dengan ini aku tak menerima saran yang membosankan lagi. "Sabar ya", "aku juga sama", "masalahku lebih berat", "itu tak seberapa", "aku udah lama, trs putus b aja", "udah lah cari yg lain" dan saran yang sudah sering aku dengarkan. Sampai-sampai aku bisa menebak apa yang akan mereka katakan hanya dari raut muka yang hendak mengucapkan kata. Dan lagi pula disini, walau aku menulis sepanjang apapun juga tak kan ada penolakan. Bahkan tak kan ada yang membaca, termasuk kamu. Kamu, topik favorite ku yang tak akan pernah membaca apa yang ku tuliskan disini. Sebenarnya aku tak lupa kamu pernah berjanji untuk membaca blog ku suatu hari. Tapi aku rasa janji itu tak akan kau tepati. Bahkan mungkin kamu sudah lupa pernah berjanji akan hal itu. Meskipun aku punya bukti nya, aku rasa kamu akan cari alasan. Seperti sebelum-sebelumnya. 

Sekarang, aku tak akan lagi menyuruhmu membacanya. Aku tak kan lagi memaksamu untuk apa yang tak kamu mau. Tentang ku mungkin hanya menambah bebanmu saja.

Oh ya, hari ini kamu sibuk apa? Kerja? Magang? Menghabiskan waktu di rumah atau menikmati hari ini bersama nya? Aku tau aku tak berhak bertanya semua itu, dan pastinya kamu enggan menjawabnya lagi. Mangkannya aku tak punya cukup nyali untuk bertanya langsung lewat apapun itu. Aku sudah cukup sakit kamu abaikan, dan tentunya betapa tak tau malunya aku kalau aku tetap mengganggumu lewat pesan singkat tak bermutu itu. Bukannya aku tak mau lagi untuk menanyakan semua yang ingin ku tanyakan, hanya saja aku belum cukup kuat untuk merasakan sakit lagi atas balasan pesan yang nantinya kamu kirimkan. Aku terlalu takut untuk terluka lagi. Jadi selalu ku urungkan niat ku untuk menyapamu. Saat ini otakku selalu ku usahakan memenangkan perdebatan dengan hatiku. Dan aku tau itu pun mau mu. Aku pergi menjauh, bahkan jangan kembali katamu lewat acuhmu yg seolah memberiku isyarat untuk melakukannya.

Berat memang. Sangat berat. Bahkan aku tak tau lagi harus melakukan kegiatan apalagi hanya untuk tak mengingatmu. Namun, jika malam tiba seperti ini aku selalu gelisah. Memikirkanmu sedang apa, makanmu terjaga tidak, bersama siapa dan apakah kamu pernah mengingatku walau sedetik saja di setiap harimu. Aku selalu penasaran akan hal itu, karna kamu selalu ada di setiap hela nafasku sepanjang harinya.

Malam ini, aku kembali merindukanmu. Aku tau tak kamu perbolehkan. Tapi aku bisa apa, kerinduan ini juga akan sia-sia pada akhirnya. Jadi ku putuskan untuk menikmati setiap sakit tersebab olehnya. Tadi, tak sengaja aku melihatmu mengganti poto profil di whatsapp mu yang jarang kau gunakan. Gambar itu tampak jelas menggambarkan kondisimu yang sedang tak baik-baik saja. Ingin rasanya aku membantumu keluar dari kesedihan itu, membuatmu bahagia sebisaku dan menuruti inginmu agar kamu kembali tersenyum dan melepas kan topeng yang selama ini kamu pakai. Membuatmu tak lagi menunduk merasakan sakit yang begitu dalam. Aku tau kamu terluka, aku tau kamu menginginkan seseorang hadir untuk melepaskanmu dari apa yang kamu rasakan. Sebenarnya jika diizinkan aku mau menjadi seseorang itu. Tapi sayangnya kamu tak mau orang itu adalah aku. Mungkin menurutmu memang masih dia yang terbaik, hingga tulus ku pun begitu saja kamu abaikan.  Yah, aku paham bagaimana situasinya. Mungkin aku dan kamu memang hanya ditakdirkan untuk dekat dan saling mengisi masa lalu yang tak kan pernah menjadi "kita" dimasa depan. Aku mulai rela kok menjadi temanmu. Suatu saat nanti jika kita kembali bertemu, aku harap rasaku sudah menjadi sama dengan rasamu saat ini.

Yaudah, sudah larut. Aku lelah meneteskan air mata. Selamat malam, semoga mimpimu indag ya malam ini.
I miss u so much (GAPB)💔


Senin, 17 Februari 2020

Ketika Ku Kira Aku Istimewa (by Fiersa Besari)

Kukira hanya untukku dirimu
Ternyata kau terbagi ke segala penjuru Sporadis memberi angin surga kepada kawanan pemangsa
Masih kurangkah telinga ini mendengar keluh kesahmu?
Belum cukupkah waktuku untuk membalas semua aduanmu?
Jika aku yang kau rasa menenangkanmu lantas mengapa ia yang menenangkanmu? Siapa gerangan dirinya?
Dari mana datangnya?
Mengapa aku tidak melihatnya datang? Nampaknya terlalu rapi kau sembunyikan musuhku di dalam selimutmu
Siapapun yang berusaha merenggutmu akan kuanggap musuhku
Jadi selama ini, saat aku berharap mungkin saja kau dan dirinya sedang bermalam mingguan
Saat aku terbuai mungkin saja kalian sedang bergandengan tangan
Saat aku hendak membantu masalah-masalahmu sudah ada dirinya yang menjadi ksatria untukmu
Bravo! luar biasa
Dan kalah sebelum berperang adalah perasaan yang sangat menyebalkan hari ini
Mau tak mau harus kupakai lagi topeng senyumku
Kusimpan lagi perasaanku rapat-rapat 
Selamat kataku padahal bara membakar hati sembari hangus
Aku terus menerus mengutuk diri sendiri
Wahai kau yang berjubah api puaskah kau menjadikanku arang?
Sebenar-benarnya cemburu yang menyakitkan adalah cemburu pada seseorang yang tidak peduli akan perasaan kita
Namun, ini bukan salahmu, sungguh..
Memang aku saja yang tidak pernah cukup berani untuk menjabarkan apa yang sepatutnya kau ketahui
Selamat ulangku,
Dengan penuh kemunafikan padahal diam-diam kudoakan ia mati saja
Kau tersenyum matamu berbinar entah lugu atau pura-pura tak mengerti mengenai apa yang kupendam
Dan aku yang bodoh ini terkunci rapat-rapat di dalam labirinmu
Tak tahu jalan keluar
Secara terselubung kususupi hari-harimu dengan pengharapan secercah harapan mampu hadir,
Bahkan di ruangan tergelap 
Tenang saja kau takkan kehilangan segala perhatianku
Aku hanya menyembunyikannya lebih rapi lagi 
Ya, aku mengalah mengalah karena aku percaya kalau kau memang untukku sejauh apapun kakimu membawa lari jalan yang kau tempuh hanya akan membawamu kembali padaku


Terimakasih bang Fiersa telah mewakili perasaanku :)

Sabtu, 15 Februari 2020

Pada akhirnya aku memang harus melangkah pergi
Bukan karna inginku
Namun, karna acuhmu yang lagi lagi memaksaku untuk menggunakan logikaku
Aku tau kamu saat ini sudah sangat menginginkanku untuk tak lagi ada di hidupmu
Bahkan jika memang bisa, mungkin dengan segera kamu bakal menghapus segala tentangku bahkan melenyapkanku
Tanpa berpikir panjang tentu akan kamu lakukan dengan senang hati
Aku juga tau, rasa tak nyamanmu sudah tak lagi bisa tertahankan
Mangkannya, segala upaya akan kamu lakukan untuk bisa membuatku pergi menjauh dari mu
Tak lagi mengusik hidupmu
Acuhmu, abaimu dan kata-kata yang seringkali mematahkan hati ku terus kamu lakukan
Dan, selamat.. kamu berhasil kali ini
Aku sadar, mau seperti apapun aku berusaha dekat denganmu itu akan percuma
Yang ada, kamu malah semakin pergi berlari
Dan aku, hanya akan semakin menjadi perempuan hina dimatamu
Sekarang, mulai hari ini aku pasrah sama keadaan ini
Aku akan menuruti semua mau dan inginmu
Aku akan pergi menjauh
Aku akan kembali menciptakan jarak antara kita seperti sebelumnya
Aku lelah, lelah yang benar-benar lelah..
Harapku yang pupus berkali-kali hingga membuat sakit itu tercipta berulang kali
Selamat tinggal,
Jaga dirimu baik-baik
Semoga siapapun itu tak akan menyakitimu seperti apa yang telah ku lakukan saat ini
Jika suatu saat nanti kita bertemu
Aku harap semua sudah kembali pulih
Lukaku dan juga rasa kesalmu

Selamat tinggal sayang!💔(gapb)
Malam ini, aku hanya bisa tersenyum simpul. Setelah seharian cukup lelah berjibaku memantaskan diri untuk masa depan yang juga tak kunjung di kabulkan oleh sang pemilik alam semesta. Kini dimalam yang sunyi dan ditemani dengan rintikan hujan mengantarkan lamunanku untuk sedikit mengingat tentang kisah yang aku alami. Tak ada tangis lagi, hanya senyum tak lepas yang tersisa. Yah, apalagi kalau tidak tentang kisah cintaku yang juga tak berjalan seperti apa yang aku harapkan. 

Aku tau, kisahku bukan lah kisah paling menyedihkan yang pernah ada, bukan tentang ditinggalkan dia yang dicinta, bukan tentang terpisahkan yang padahal saling cinta, bukan tentang cinta tanpa restu dan bukan juga tentang perpisahan setelah menjalin hubungan cukup lama. Tapi nyatanya ini justru kisah yang membuatku terperangkap dalam kesedihan tanpa arah, dan jika kamu tau kisah ini amat sangat membuatku terpuruk. Padahal banyak mereka yang mengira sebelumnya bahwa aku perempuan kuat, perempuan tangguh, dan perempuan yang bahkan susah untuk sedih tersebab lelaki. Jangankan mereka, aku sendiri pun tak habis pikir dengan diriku sendiri yang sebegitu merasa tersakitinya karena kisah yang bahkan juga belum di mulai. Aku kira aku tak serapuh ini, dan aku bisa bangkit seperti sebelumnya yang seolah terlatih untuk patah hati. Ternyata, seiring berjalannya waktu ketegaran dan ketangguhanku pudar karena dia yang bisa membuatku merubah perspektif tentang kehidupan. Ya, dia yang telah berhasil membuka pintu hati ku lalu meninggalkan begitu saja tanpa ada niatan sekalipun untuk sekedar mengetuk apalagi masuk.

Mencintai memang indah pada awalnya. Saat itu aku senang, telah kembali merasakan hal yang ternyata sudah cukup lama tidak aku rasakan. Perasaan yang bahkan aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya. Yang jelas, saat itu aku bahagia setiap kali kita berhasil bertemu menciptakan moment berdua atau bersama mereka. Melihatnya seolah menjadi moodbooster tersendiri buatku. Memperoleh notifikasi darinya pun sudah bisa membuatku senyum kegirangan. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu. Padahal sebelumnya bertemu dengannya terasa biasa saja bahkan tak pernah ada yang istimewa. 

Namun, rasa itu perlahan berubah menjadi rasa cemas yang tak lagi bisa ku sembunyikan. Gelisah karena dia yang tak lagi sama seperti awal kita kembali dipertemukan oleh takdir setelah tak pernah didekatkan. Dia berubah. Sangat berubah. Bahkan aku tak lagi mengenalnya. Pikiran dalam otakku selalu berfikir dia sedang dekat dengan seseorang yang jelas itu bukan aku. Oleh karnanya dia menjadi dia yang tak lagi ku kenal pada saat itu. 

Dari sana aku mulai paham, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Hingga aku merasa tak mau kehilangannya. Demi apapun aku tak sanggup kehilangannya. Melihatnya dekat dengan seseorang yang bukan aku telah cukup menggoreskan luka di hati ini. Namun, aku sadar siapa aku dalam hidupnya.

Mencintai seorang sahabat, aku rasa itu akan mudah. Karena tak perlu lagi memulai dari nol apapun itu. Kata mereka yang juga terjebak dalam lingkaran setan persahabatan yang disebut friendzone justru sebaliknya. Memang seorang perempuan berpikir demikian, namun dari segi lelaki ternyata berbeda. Kaum adam lebih memilih mendekati seseorang yang baru daripada bersama yang telah lama dikenalnya. Alasannya, apalagi kalau bukan penasaran atau tertantang. Entahlah,, tadinya aku tak begitu saja percaya. Sampai ada akhirnya aku lelah dengan rasa cintaku yang semakin lama semakin menyiksa ku karena dia yang justru malah semakin menjauh.

Aku mencintainya dengan segala masa lalu yang ia ceritakan padaku. Aku tak menghiraukan apa yang mungkin itu buruk. Cinta ini bahkan membuatku selalu ingin membuat dia bahagia entah bagaimana itu caranya. Yang jelas dia bisa tersenyum bahagia tersebab olehku. Hingga batas-batas pertemanan mungkin terabaikan. Rasa tak mampu kehilangan itu lah yang semakin menguatkan ku untuk mengungkapkannya.

Aku pikir dengan pengakuanku yang memang aku sudah tau jawabanya bahwa dia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat, akan bisa membuat segalanya jadi lebih baik lagi. Meskipun aku tak bisa memilikinya namun aku masih bisa bersamanya sebagai orang yang dekat dengannya yaitu sahabat. Namun, sekarang aku menyesal telah mengatakan apa yang aku rasakan. 

Aku perlahan kehilangan dia. Kehilangan dia sebagai orang yang aku sayang dan sekaligus dia sebagai seorang sahabat. Sedih rasanya, tersebab aku mencintai sahabatku, aku harus rela kehilangannya. Mungkin hari ini dia sudah benci dengan ku dan sepaket dengan rasa cintaku yang tak kunjung pergi ini. Bahkan jika bisa dia ingin benar-benar pergi menjauh dari ku. Entah ini hanya rasa kecewaku atas sikap acuhnya yang memang mengisyaratkanku untuk menjauh darinya atau memang benar dia yang tak mau lagi aku ada dalam hidupnya.

Malam ini, bahkan aku merasa terpatahkan lagi. Tersebab cintaku, dia pergi. Senyum simpulku kembali hadir. Dan terlintas tanya, "bukankah seharusnya aku yang menjauhinya? Kenapa malah justru dia yang seolah jijik atau benci denganku? Kenapa seperti ini? Aku yang merasa tersakiti, dan aku yang merasa terpatahkan berkali-kali, seharusnya aku yang membencinya dan seharusnya aku yang memblokir dia dari hidupku kan? Kenapa aku yang malah terblacklist juga pada akhirnya?" Ingin aku berteriak dimana keadilan itu sebenarnya, apakah sudah lupa akan tugasnya?. Tapi lagi-lagi aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Orang yang paling bisa tersalahkan adalah diriku sendiri. Aku yang sudah berani mencintainya dan aku yang telah salah menjatuhkan hati untuknya. Tak sepantasnya aku bermain seolah aku sang korban. Dalam hal ini aku tak bermain dengan siapa-siapa selain dengan hatiku sendiri. Mungkin aku terlalu mencintainya melebihi cintaku pada sang Pencipta hingga Dia cemburu dan memberiku rasa sakit tersebab rasa itu. Aku menyesal dan aku pasrah. Jika tersisa kesempatan untuk memberitahunya lagi, aku hanya ingin meminta maaf atas rass cinta yang aku miliki untuknya. Maaf karena rasa itu kamu menjadi tak lagi mau berteman denganku. Andai bisa ku putar waktu, mungkin aku akan memilih untuk tidak mengatakan nya jika pada akhirnya aku harus kehilangannmu secepat ini. Tapi apa dayaku, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang aku hanya bisa menikmati apa yang telah ku mulai hingga entah kapan suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang tak lagi menangis saat mengingatmu dan biasa saja mendengar namamu. 

Kisah yang kandas sebelum dimulai telah mengajarkan ku arti sebuah keikhlasan dan sebuah pengorbanan. Menyadarkanku bahwa rasa nyaman tak selamanya berarti ada perasaan. Dan terkadang memang hidup berjalan tak sesuai yang kita inginkan. Banyak hal yang kita mau dan kita harapkan tak bisa kita gapai. Sekeras apapun kita berusaha jika memang takdir berkata dia tak mau bersama, aku tak bisa menolaknya. Bukankah sejatinya kita hanya menjalankan skenario dari Nya? Memang penyesalan selalu datang terlambat, tapi aku yakin akan ada hari esok yang lebih bahagia untukku dan juga untuk dia yang pernah dan masih ku cinta. Terimakasih tak sengaja telah menciptakan moment bahagia denganku dan sedikit memberi warna dalam hidupku yang monoton sebelumnya. Aku akan melupa dengan rela dan ikhlas tanpa luka suatu saat nanti. Aku harap suatu hari nanti dia membaca tulisanku malam ini.
Sekali lagi Terimakasih untuk dia yang brlum ku lupa (GAPB)





Jumat, 14 Februari 2020

Baru juga semalam aku pamit
Berniat untuk melangkah pergi
Menjauh dari kamu yang bahkan sama sekali tak pernah perduli
Tapi nyatanya hari ini,
Rinduku begitu menyiksa diri
Sampai pada akhirnya aku pun kembali memberanikan diri
Menyapamu untuk kesekian kali
Bahkan mengharap temu itu kan kembali terjadi
Yah, padahal aku tau pasti terpatahkan lagi

Hari ini, aku kembali menyesali
Kalimat bodoh yang ku ucapkan
Telah membuatmu semakin tak menyukaiku atau bahkan kamu sudah mulai untuk membenciku
Memasang kembali tembok yang sudah susah payah aku hancurkan

Hari ini, aku kembali menyesali
Rasa cemburu yang menguasai hati
Dan penolakan yang justru kembali tak bisa ku terima
Membuatku melontarkan kata yang tak seharusnya ku ucapkan dihadapanmu
Maaf, sekali lagi maaf
Aku tak bisa mengontrol rasa sesak didada karnanya

Aku hanya belum bisa rela
Kamu menjadi miliknya bahkan mendengarmu dekat dengannya saja aku seolah ingin mengutuknya menjadi apa yang tak pernah ia inginkan
Tapi apa daya, aku bukan Tuhan yang bisa mengendalikan apapun
Yang bahkan, hatiku sendiri tak mampu ku kendalikan
Kau menghindariku malah justru karna rasa cintaku yang tak kunjung hilang

Maaf, 
Jika kata itu harus ku ucap beribu kali bahkan berjuta kali, aku rela
Asal rasa bencimu bisa hilang tersapu
Maaf,
Maaf aku telah kembali menjadi pribadi yang amat sangat menyebalkan hari ini
Membuatmu berlari sekencang-kencangnya
Tanpa kembali menengok ke arahku
Mungkin bencimu juga sudah tak terkendali
Sama seperti rasa cemburuku tadi
Tapi, jika suatu saat nanti rasa marahmu sudah reda aku mohon jangan hilangkan aku dari ingatanmu
Andai kamu tau,
Ada hal yang lebih menyakitkan dari sebuah penolakan
Yaitu,
Dibenci oleh orang yang kita cintai
Hari ini aku kembali terpatahkan lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya
Aku tidak hanya takut kamu pergi sebagai orang yang aku sayang
Lebih dari itu, aku takut sangaaat takut kehilanganmu sebagai seorang sahabat yang tak kan pernah menganggapku baik
Aku takut sikap ku hari ini membuatmu memasang dinding yang bahkan lebih tinggi dan lebih kokoh dari sebelumnya
Sungguh, aku takut

Aku harus apa untuk kembali mendapatkan maafmu?
Aku harus bagaimana untuk membuatmu tetap disini?
Aku harus seperti apa untuk membuatmu tetap menganggapku sekedar sebagai seorang sahabat?
Aku mohon beritahu aku
Aku mohon jangan pergi dulu

*From the bottom of my heart, i'am sorry i still love u, eventhought i can't have u (GAPB)*💔

Kamis, 13 Februari 2020

Hai, apa kabar?
Semoga kamu bahagia hari ini
Aku pamit ya
Maaf, bukan nya aku lelah berjuang
Atau tak mau bertahan
Tapi aku mulai sadar bahwa ada hatiku yang memang harus segera ku selamatkan
Ternyata jatuh cinta sendirian sangat membuatku kewalahan
Dari cara mu mengabaikanku,
Aku harsunya tersadar dari dulu
Bahwa itu penolakan halus yang tak langsung kau utarakan secara lisan
Maaf, aku terlambat sadar
Aku terlalu bersemangat selalu melangitkan namamu disetiap detik yang ku punya
Hingga tak ku hiraukan sedikitpun pertanda darimu
Akhirnya aku sadar
Bukan aku yang kamu inginkan
Terimakasih atas bahagia yang tanpa sadar telah kamu berikan
Terimakasih telah mengajariku arti mengikhlaskan tanpa sempat memiliki
Jaga dirimu baik-baik ya
Aku pamit, selamat tinggal...

Eventhought i can't forget u as soon as u want 💔 (GAPB)

Rabu, 12 Februari 2020

Mungkin aku harus seikhlas langit yang memberi hujan tanpa meminta sebuah balasan
Mencintai adalah memberi bukan meminta
Pun menerima bukan memaksa
Karena terkadang ketulusan tak selamanya dianggap berharga :)

Senin, 10 Februari 2020

Malam ini, aku memberanikan diri untuk mengingatmu. Meski belum juga genap seminggu aku pura-pura lupa. Oh, lebih tepatnya memaksa untuk tak mau mengingatmu. Seperti katamu, aku harus bisa tak lagi mengingatmu. Memang, pura-pura lupa terkadang cukup menenangkan ya ternyata. Aku yang tak lagi berharap untuk tau aktifitasmu. Dan aku yang mencoba tak mau tau akan kisahmu lagi. Yah, aku harus sadar bahwa aku tak berhak untuk tau kabarmu lagi. Bahkan, sekedar tau apakah kamu baik-baik saja aku tak cukup berani bertanya.

Menyedihkan yah, kita yg semula tak berjarak menjadi asing sebab ulahku yang tak ku pikir panjang terlebih dahulu. Maaf ya, kalau aku kemarin sempat jadi pribadi yang menyebalkan dan bahkan membuatmu ilfil mengenalku. Aku harap suatu saat nanti kamu masih mau menjadi kamu yang sebelum ini. Aku tak ingin mengingat kembali rasa yang belum juga pergi ini, tapi aku hanya rindu kita yang dulu. 

Ingin rasanya aku bertanya, apakah ada inginmu untuk sekedar tau aku masih hidup atau sudah tiada? Ingin tau apakah aku sudah baik atau makin terpuruk? Ah, maaf aku kembali berharap hal yang mustahil terjadi. Jika malam tiba, aku kembali dengan ketakutanku akan esok hari. Berharap mempercepat hari untuk melompat ke masa dimana aku mengingatmu tak lagi luka dan mendengar namamu aku biasa saja. Mungkin hari itu esok, lusa, minggu depan, atau bulan depan. Entahlah... Rasa-rasanya aku tak sabar menunggu hari itu tiba. Kamu tenang saja ya, jangan bertingkah aneh lagi, jangan gunakan mereka untuk membuatku menjauh apalagi membencimu. Andai kamu tau, ada atau tiada mereka yang kamu cintai, aku tak bisa menjamin segera melupa. Jadi stop doing stupid thing. Im on my way being the old me. And all i need just time for healing. Please dont make me die by saying u falling in love with her.

Selamat malam, semoga besok harimu menyenangkan ya tanpaku lagi♥️(GAPB)

Sabtu, 08 Februari 2020

Biarlah...
Biar Allah saja yang tau bagaimana hatiku mencintaimu, merindukanmu dan menginginkanmu...
Kamu boleh membenciku tapi aku mohon jangan benci rasa cintaku untukmu
Karna aku tak tau kapan dan darimana ia datang pun aku tak pernah tau kapan ia akan pergi
Aku kira dulu, tak serumit ini
Ku sangka, melupakanmu adalah hal yang mudah untuk ku
Semudah aku mencintaimu waktu itu

Namun, nyatanya...
Sesusah ini aku bangkit
Aku sadar, melupakan tak semudah mencintaimu
Jatuh, bangkit, jatuh lagi dan harus bangkit lagi
Hanya untuk sekedar menghapus memori tentangmu
Yang bahkan setiap kata yang kau ucap masih tertanam jelas di ingatanku
Sentuhan lembutmu pun masih terasa nyamannya

Padahal sudah jelas aku harus melupa
Menganggap semua tak pernah ada, tak pernah terjadi
Seperti paksamu dan juga inginmu
Entah kenapa begitu mudah bagimu
Mengabaikanku seolah aku wanita paling hina
Yang mudah kau atur untuk segera lupa

Aku bukan boneka yang terlatih
Aku hanya manusia biasa yang punya rasa yang tak biasa
Sampai kapankah kau tetap seperti ini?
Selalu berpindah dari satu dermaga ke dermaga lain
Hanya untuk membandingkan kepantasan untuk bersanding?
Apa yang sebenarnya kau cari?
Apa yang sebenarnya kau inginkan?
Sampai kapan kau akan berhenti untuk sekedar penasaran?
Berhentilah, aku mohon..
Jangan kau sakiti masa depanmu dengan doa tak baik dari mereka yang pernah tersakiti olehmu..

*Aku yang (masih) mencintaimu (GAPB)♥️

Rabu, 05 Februari 2020

Don't Watch Me Cry

Oh, it's hurts the most 'cause I don't know the cause
Maybe I shouldn't have cried when you left and told me not to wait
Oh, it kills the most to say that I still care
Now I'm left tryna rewind the times you held and kissed me back

I wonder if you're thinkin' "Is she alright all alone?"
I wonder if you tried to call but couldn't find your phone
Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine
A moment in time, don't watch me cry
A moment in time, don't watch me cry

I'm not crying 'cause you left me on my own
I'm not crying 'cause you left me with no warning
I'm just crying 'cause I can't escape what could've been
Are you aware when you set me free?
All I can do is let my heart bleed

Oh, it's harder when you can't see through the thoughts
Not that I wanna get in but I want to see how your mind works
No, it's harder when they don't know what they've done
Thinking it's better they leave, meaning that I'll have to move on

Oh, I wonder if you're thinkin' "Is she alright all alone?"
I wonder if you tried to call but couldn't find your phone
Have I ever crossed your thoughts because your name's all over mine
A moment in time, don't watch me cry
A moment in time, don't watch me cry

I'm not crying 'cause you left me on my own
I'm not crying 'cause you left me with no warning
I'm just crying 'cause I can't escape what could've been
Are you aware when you set me free?
All I can do is let my heart bleed

#songbyjorahsmith
I'll always love u GAPB💔

Shadow

You walk into the room
So perfect but unaware
Making me stop and stare
Every time I heard she broke your heart
Can I just fix you boy?
Show you a different world?

I'll take you anywhere
I'll put you on a throne
I'll lay down my heart, I swear
And I'll make sure that you'll never be alone

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait?
Is it too soon, too late?
Only my shadow knows

I've been loving you so long
And now that I got the chance
I see you need to dance on your own
So I'll wait another day
Maybe another year
I'm gonna be right here, oh

I'll take you anywhere
I'll put you on a throne
I'll lay down my heart, I swear
And I'll make sure that you'll never be alone (alone)

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait?
Is it too soon, too late?
Cause only my shadow knows

I wish I could say all these words
All these things that your heart never heard, yeah
But I saw the pain in your eyes and it sealed my lips

Only my shadow knows
How I feel about you
Only my shadow goes
Where I dream of you and me
Should I go or wait?
Is it too soon, too late?
Only my shadow knows, hey
Only my shadow knows, oh oh

Only my shadow knows

(Shadow by Austin Mahone)

Just for u GAPB☹️

Selasa, 04 Februari 2020

Selasa, 4 Februari 2020

Hai, selamat malam...
Ada yang mau aku sampaikan padamu, tapi kalau lewat chat sepertinya aku belum siap dengan jawabanmu yang sudah ku pastikan mencabik-cabik hatiku. Jadi, akhirnya aku hanya bisa menulis di blog ini. Dengan harapan suatu saat nanti kamu bisa baca. Meski saat itu, mungkin aku sudah tidak dalam keadaan yang sama lagi. Dan semoga sudah lebih baik dari saat ini.

Hari ini, ada cerita apa di detikmu? Sibuk apa tadi? Seperti biasa, apa ada hal yang bisa kamu ceritakan padaku? Mungkin ada orang yang sudah bikin kamu sedih, marah, atau mungkin sudahkah ada orang yang membuatmu tersenyum hari ini? Ah, sepertinya tanyaku yang pastinya tanpa jawab ini hanya memenuhi lembar tulisan kali ini. Maaf ya kamu masih menjadi topik favoritku.

Malam ini, aku mau cerita ndung. Pencapaianku hari ini telah pada dititik pasrah dalam mengharapkanmu. Aku sudah tak lagi meneteskan air mata untuk mengingatmu. Entah karena aku sudah mulai ikhlas atau memang karena air mata ku sudah habis untukmu. Yang jelas sesak itu masih ada. Ruangan hatiku yang tadinya tersusun rapih, penuh dengan kenangan kita yang hanya sebentar, kini terpaksa harus ku obrak abrik susunannya agar rasa dan kenangan itu bisa kulepas. Perlahan mulai ada ruang untuk ku sekedar menghela napas. 

Bukannya aku menyerah untuk memperjuangkanmu. Aku hanya perlu istirahat sejenak sembari berfikir, pantaskah aku tetap memperjuangkanmu? Yang bahkan pengorbanan ku tak sedikit pun kamu anggap. Aku hanya manusia biasa yang memiliki batas, seperti batas cintaku padamu yaitu cintaku pada pemilikmu. Tapi, aku rasa ini yang kamu mau. Ini yang kamu inginkan. Kamu yang selalu ingin aku untuk pergi, membuang rasa cintaku yang memang tak kau harapkan. Aku mulai lelah berharap untuk bisa bersamamu. Kemustahilan yang selalu aku semogakan disetiap doa ku. Dan kini aku tak lagi ingin berharap padamu, aku hanya berharap pada sang penciptamu. Jika bagi mu mustahil, aku yakin bagi Allah sangat mudah membalikkan hatimu jika memang kau tercipta untukku. Aku pasrah pada takdirNya. Aku tau Allah pasti telah menyiapkan yang terbaik buat kita. Entah kita nantinya akan bersama atau tetap berpisah.

Mendengar kabarmu telah menemukan tambatan hati, sedikit menggetarkan hatiku. Memaksa rasa cemburuku kembali muncul. Hingga aku melakukan kesalahan bodoh yang mungkin membuatmu tak nyaman. Maaf untuk hal itu. Aku masih berusaha untuk menata kepingan - kepingan hati yang kali ini memang belum kembali sempurna. Banyak tanya yang ingin ku tau jawabannya. Tentang tanya siapa dia? mengapa dia? Kenapa dia? Apa lebihnya? Dan pertanyaan bodoh lainnya yang aku tau itu pasti melukaiku (lagi). Hingga aku tersadar, tak semua tanya harus ada jawabnya sekarang kan? Satu hal yang mengganggu benakku dari itu semua, kenapa kamu menemukannya sekarang? Kenapa disaat aku sedang tertatih menyembuhkan luka ini kamu seolah bahagia? Setega itu kamu? Sejahat itukah kamu sebenarnya? Namun, pembelaan hatiku bilang, itu caramu membantuku melupakanmu. Kamu tak benar-benar suka sama dia yang kamu anggap menarik sekarang. Pembelaan ini semakin menyakitiku. Kenapa aku tak pernah bisa membencimu? Sedalam ini kah rasa ini untukmu, hingga logikaku selalu menepi menghadapimu.

Saat ini, aku mencoba untuk merelakanmu. Melepasmu bersama dia yang kamu mau. Tangisku tak lagi ada malam ini. Mungkin dia lebih bisa membuatmu bahagia daripada aku saat ini.

Tapi maaf, aku masih mencintaimu dan aku tak tau sampai kapan rasa ini bertahan. Namamu masih menjadi list dalam setiap doaku. Aku mohon, jangan menyuruhku menghapus namamu dalam doa ku. Karena itu satu-satunya hal yang bisa ku lakukan untuk tetap bisa mencintaimu. Maaf, karna aku akan tetap mencintaimu dalam do'a. Ungkapan rasa yang tak mungkin lagi ku ucapkan dihadapanmu. Aku takut kamu semakin menjauh dan tak nyaman dengan ini. Satu pintaku, jika kamu lelah berpetualang atau dia menyakitimu lihatlah aku yang masih ditempat yang sama. Memandangmu dari kejauhan dan siap memelukmu jika kamu mengizinkan. Saat ini, aku pamit. Menata diri, menata hati, dan memantaskan diri untuk seseorang entah itu kamu atau berwujud bukan kamu. 

Selamat malam, semoga esok hatimu telah berbalik..

I will always love u♥️ (GAPB)