Bagaimana harimu akhir-akhir ini? Apakah menyenangkan? Ku harap kamu sehat ya saat ini. Maaf, lagi-lagi aku masih menulis tentangmu. Malam ini ditemani hujan dan suara katak yang sahut menyahut menambah suasana syahdu yang kurasakan. Dan pastinya aku masih teringat tentang mu, tentang kita.
Banyak tanya yang memang seharusnya tak usah ku pertanyakan. Perihal masa depan yang selalu membuatku cemas. Siapa nantinya yang akan membuat ku berhasil melupakanmu. Siapa orang beruntung yang bisa bersanding denganmu. Dan apakah kita memang tidak berjodoh. Sampai kapan aku selalu seperti ini. Mengingatmu seolah sudah menjadi pekerjaan favorite yang selalu ku sesali. Serta pertanyaan-pertanyaan bodoh lainnya yang membuat penyakit overthinking ku semakin menjadi-jadi.
Kamu tau apa yang ku lakukan jika aku ada dalam kondisi seperti ini? Yah, aku menulis, meluapkan apa saja yang ada di otakku. Melepaskan sebagian kecil bebanku lewat tulisan ini. Mungkin tak kan ada orang yang mengerti bahkan tak kan ada yang mau memahami. Oleh karnanya aku menulis, dimana dengan ini aku tak menerima saran yang membosankan lagi. "Sabar ya", "aku juga sama", "masalahku lebih berat", "itu tak seberapa", "aku udah lama, trs putus b aja", "udah lah cari yg lain" dan saran yang sudah sering aku dengarkan. Sampai-sampai aku bisa menebak apa yang akan mereka katakan hanya dari raut muka yang hendak mengucapkan kata. Dan lagi pula disini, walau aku menulis sepanjang apapun juga tak kan ada penolakan. Bahkan tak kan ada yang membaca, termasuk kamu. Kamu, topik favorite ku yang tak akan pernah membaca apa yang ku tuliskan disini. Sebenarnya aku tak lupa kamu pernah berjanji untuk membaca blog ku suatu hari. Tapi aku rasa janji itu tak akan kau tepati. Bahkan mungkin kamu sudah lupa pernah berjanji akan hal itu. Meskipun aku punya bukti nya, aku rasa kamu akan cari alasan. Seperti sebelum-sebelumnya.
Sekarang, aku tak akan lagi menyuruhmu membacanya. Aku tak kan lagi memaksamu untuk apa yang tak kamu mau. Tentang ku mungkin hanya menambah bebanmu saja.
Oh ya, hari ini kamu sibuk apa? Kerja? Magang? Menghabiskan waktu di rumah atau menikmati hari ini bersama nya? Aku tau aku tak berhak bertanya semua itu, dan pastinya kamu enggan menjawabnya lagi. Mangkannya aku tak punya cukup nyali untuk bertanya langsung lewat apapun itu. Aku sudah cukup sakit kamu abaikan, dan tentunya betapa tak tau malunya aku kalau aku tetap mengganggumu lewat pesan singkat tak bermutu itu. Bukannya aku tak mau lagi untuk menanyakan semua yang ingin ku tanyakan, hanya saja aku belum cukup kuat untuk merasakan sakit lagi atas balasan pesan yang nantinya kamu kirimkan. Aku terlalu takut untuk terluka lagi. Jadi selalu ku urungkan niat ku untuk menyapamu. Saat ini otakku selalu ku usahakan memenangkan perdebatan dengan hatiku. Dan aku tau itu pun mau mu. Aku pergi menjauh, bahkan jangan kembali katamu lewat acuhmu yg seolah memberiku isyarat untuk melakukannya.
Berat memang. Sangat berat. Bahkan aku tak tau lagi harus melakukan kegiatan apalagi hanya untuk tak mengingatmu. Namun, jika malam tiba seperti ini aku selalu gelisah. Memikirkanmu sedang apa, makanmu terjaga tidak, bersama siapa dan apakah kamu pernah mengingatku walau sedetik saja di setiap harimu. Aku selalu penasaran akan hal itu, karna kamu selalu ada di setiap hela nafasku sepanjang harinya.
Malam ini, aku kembali merindukanmu. Aku tau tak kamu perbolehkan. Tapi aku bisa apa, kerinduan ini juga akan sia-sia pada akhirnya. Jadi ku putuskan untuk menikmati setiap sakit tersebab olehnya. Tadi, tak sengaja aku melihatmu mengganti poto profil di whatsapp mu yang jarang kau gunakan. Gambar itu tampak jelas menggambarkan kondisimu yang sedang tak baik-baik saja. Ingin rasanya aku membantumu keluar dari kesedihan itu, membuatmu bahagia sebisaku dan menuruti inginmu agar kamu kembali tersenyum dan melepas kan topeng yang selama ini kamu pakai. Membuatmu tak lagi menunduk merasakan sakit yang begitu dalam. Aku tau kamu terluka, aku tau kamu menginginkan seseorang hadir untuk melepaskanmu dari apa yang kamu rasakan. Sebenarnya jika diizinkan aku mau menjadi seseorang itu. Tapi sayangnya kamu tak mau orang itu adalah aku. Mungkin menurutmu memang masih dia yang terbaik, hingga tulus ku pun begitu saja kamu abaikan. Yah, aku paham bagaimana situasinya. Mungkin aku dan kamu memang hanya ditakdirkan untuk dekat dan saling mengisi masa lalu yang tak kan pernah menjadi "kita" dimasa depan. Aku mulai rela kok menjadi temanmu. Suatu saat nanti jika kita kembali bertemu, aku harap rasaku sudah menjadi sama dengan rasamu saat ini.
Yaudah, sudah larut. Aku lelah meneteskan air mata. Selamat malam, semoga mimpimu indag ya malam ini.
I miss u so much (GAPB)💔
Tidak ada komentar:
Posting Komentar