Sabtu, 22 Februari 2020

Sekarang, aku tak tau mengapa luka itu masih ada
Semakin terasa jika ada suatu hal yang bahkan bukan tentangmu tapi justru malah mengingatkanku denganmu
Mungkin,
Aku belum pernah merasakan sejauh ini berjarak denganmu
Tembok yang kau bangun semakin tinggi dan kokoh
Hingga memaksaku untuk selalu menebak apa yang ada di baliknya

Kau yang semakin tidak peduli akan ku
Membuatku semakin menyadari bahwa memang bukan aku yang kau izinkan masuk dalam hidupmu
Mengenalmu lebih dekat, dan membersamaimu hingga rambutmu memutih
Kepada kamu yang tak akan membaca tulisan ini
Karna sebanyak apapun waktu senggang yang kamu miliki
Tak pernah sedetik pun yang memang untukku

Tenang saja,
Sama sekali tak ada maksud apa-apa untukmu
Aku, tak akan marah tersebab olehmu
Apalagi menyalahkanmu karena tak bisa menerimaku
Tulisan ini hanya untuk membuat hatiku yang sesak penuh dengan semua tentangmu bisa sedikit merasa lega
Bisa merasakan kembali bernafas setelah sekian lama ku tahan
Karna aku sudah tak sanggup lagi menyimpannya baik di hati ataupun otakku
Keduanya sama-sama sepakat tak bisa lagi menampungnya
Oleh karenanya aku tuliskan bersama kata-kata

Jika pada akhirnya memang bukan aku yang kamu izinkan masuk di kehidupanmu
Aku mengaku kalah,
Meski belum juga hatiku menerima
Apabila suatu hari nanti kamu telah menemukan seseorang yang bukan aku
Yang kamu minta mendampingimu sepanjang usiamu

Maaf,
Sampai saat ini aku masih saja menunggumu
Mungkin jika semesta mengizinkan
Aku akan terus menunggu dan menanti kamu sepanjang sisa umurku
Namun jika tidak,
Sebelum aku benar-benar melangkah pergi menjauhimu
Izinkan aku menyampaikan rasa maafku yang mungkin sudah basi
Maaf jika aku telah mencintaimu begitu dalam
Yah, aku memang benar-benar kalah pada akhirnya
Satu-satunya pemenangnya adalah doaku untukmu
Doaku untuk senyummu dan kebahagiaanmu di sepanjang sisa waktu yang kamu miliki di dunia ini
Meskipun bukan dengan diriku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar