Aku tau, kisahku bukan lah kisah paling menyedihkan yang pernah ada, bukan tentang ditinggalkan dia yang dicinta, bukan tentang terpisahkan yang padahal saling cinta, bukan tentang cinta tanpa restu dan bukan juga tentang perpisahan setelah menjalin hubungan cukup lama. Tapi nyatanya ini justru kisah yang membuatku terperangkap dalam kesedihan tanpa arah, dan jika kamu tau kisah ini amat sangat membuatku terpuruk. Padahal banyak mereka yang mengira sebelumnya bahwa aku perempuan kuat, perempuan tangguh, dan perempuan yang bahkan susah untuk sedih tersebab lelaki. Jangankan mereka, aku sendiri pun tak habis pikir dengan diriku sendiri yang sebegitu merasa tersakitinya karena kisah yang bahkan juga belum di mulai. Aku kira aku tak serapuh ini, dan aku bisa bangkit seperti sebelumnya yang seolah terlatih untuk patah hati. Ternyata, seiring berjalannya waktu ketegaran dan ketangguhanku pudar karena dia yang bisa membuatku merubah perspektif tentang kehidupan. Ya, dia yang telah berhasil membuka pintu hati ku lalu meninggalkan begitu saja tanpa ada niatan sekalipun untuk sekedar mengetuk apalagi masuk.
Mencintai memang indah pada awalnya. Saat itu aku senang, telah kembali merasakan hal yang ternyata sudah cukup lama tidak aku rasakan. Perasaan yang bahkan aku sendiri sudah lupa bagaimana rasanya. Yang jelas, saat itu aku bahagia setiap kali kita berhasil bertemu menciptakan moment berdua atau bersama mereka. Melihatnya seolah menjadi moodbooster tersendiri buatku. Memperoleh notifikasi darinya pun sudah bisa membuatku senyum kegirangan. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu. Padahal sebelumnya bertemu dengannya terasa biasa saja bahkan tak pernah ada yang istimewa.
Namun, rasa itu perlahan berubah menjadi rasa cemas yang tak lagi bisa ku sembunyikan. Gelisah karena dia yang tak lagi sama seperti awal kita kembali dipertemukan oleh takdir setelah tak pernah didekatkan. Dia berubah. Sangat berubah. Bahkan aku tak lagi mengenalnya. Pikiran dalam otakku selalu berfikir dia sedang dekat dengan seseorang yang jelas itu bukan aku. Oleh karnanya dia menjadi dia yang tak lagi ku kenal pada saat itu.
Dari sana aku mulai paham, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Hingga aku merasa tak mau kehilangannya. Demi apapun aku tak sanggup kehilangannya. Melihatnya dekat dengan seseorang yang bukan aku telah cukup menggoreskan luka di hati ini. Namun, aku sadar siapa aku dalam hidupnya.
Mencintai seorang sahabat, aku rasa itu akan mudah. Karena tak perlu lagi memulai dari nol apapun itu. Kata mereka yang juga terjebak dalam lingkaran setan persahabatan yang disebut friendzone justru sebaliknya. Memang seorang perempuan berpikir demikian, namun dari segi lelaki ternyata berbeda. Kaum adam lebih memilih mendekati seseorang yang baru daripada bersama yang telah lama dikenalnya. Alasannya, apalagi kalau bukan penasaran atau tertantang. Entahlah,, tadinya aku tak begitu saja percaya. Sampai ada akhirnya aku lelah dengan rasa cintaku yang semakin lama semakin menyiksa ku karena dia yang justru malah semakin menjauh.
Aku mencintainya dengan segala masa lalu yang ia ceritakan padaku. Aku tak menghiraukan apa yang mungkin itu buruk. Cinta ini bahkan membuatku selalu ingin membuat dia bahagia entah bagaimana itu caranya. Yang jelas dia bisa tersenyum bahagia tersebab olehku. Hingga batas-batas pertemanan mungkin terabaikan. Rasa tak mampu kehilangan itu lah yang semakin menguatkan ku untuk mengungkapkannya.
Aku pikir dengan pengakuanku yang memang aku sudah tau jawabanya bahwa dia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat, akan bisa membuat segalanya jadi lebih baik lagi. Meskipun aku tak bisa memilikinya namun aku masih bisa bersamanya sebagai orang yang dekat dengannya yaitu sahabat. Namun, sekarang aku menyesal telah mengatakan apa yang aku rasakan.
Aku perlahan kehilangan dia. Kehilangan dia sebagai orang yang aku sayang dan sekaligus dia sebagai seorang sahabat. Sedih rasanya, tersebab aku mencintai sahabatku, aku harus rela kehilangannya. Mungkin hari ini dia sudah benci dengan ku dan sepaket dengan rasa cintaku yang tak kunjung pergi ini. Bahkan jika bisa dia ingin benar-benar pergi menjauh dari ku. Entah ini hanya rasa kecewaku atas sikap acuhnya yang memang mengisyaratkanku untuk menjauh darinya atau memang benar dia yang tak mau lagi aku ada dalam hidupnya.
Malam ini, bahkan aku merasa terpatahkan lagi. Tersebab cintaku, dia pergi. Senyum simpulku kembali hadir. Dan terlintas tanya, "bukankah seharusnya aku yang menjauhinya? Kenapa malah justru dia yang seolah jijik atau benci denganku? Kenapa seperti ini? Aku yang merasa tersakiti, dan aku yang merasa terpatahkan berkali-kali, seharusnya aku yang membencinya dan seharusnya aku yang memblokir dia dari hidupku kan? Kenapa aku yang malah terblacklist juga pada akhirnya?" Ingin aku berteriak dimana keadilan itu sebenarnya, apakah sudah lupa akan tugasnya?. Tapi lagi-lagi aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Orang yang paling bisa tersalahkan adalah diriku sendiri. Aku yang sudah berani mencintainya dan aku yang telah salah menjatuhkan hati untuknya. Tak sepantasnya aku bermain seolah aku sang korban. Dalam hal ini aku tak bermain dengan siapa-siapa selain dengan hatiku sendiri. Mungkin aku terlalu mencintainya melebihi cintaku pada sang Pencipta hingga Dia cemburu dan memberiku rasa sakit tersebab rasa itu. Aku menyesal dan aku pasrah. Jika tersisa kesempatan untuk memberitahunya lagi, aku hanya ingin meminta maaf atas rass cinta yang aku miliki untuknya. Maaf karena rasa itu kamu menjadi tak lagi mau berteman denganku. Andai bisa ku putar waktu, mungkin aku akan memilih untuk tidak mengatakan nya jika pada akhirnya aku harus kehilangannmu secepat ini. Tapi apa dayaku, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang aku hanya bisa menikmati apa yang telah ku mulai hingga entah kapan suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang tak lagi menangis saat mengingatmu dan biasa saja mendengar namamu.
Kisah yang kandas sebelum dimulai telah mengajarkan ku arti sebuah keikhlasan dan sebuah pengorbanan. Menyadarkanku bahwa rasa nyaman tak selamanya berarti ada perasaan. Dan terkadang memang hidup berjalan tak sesuai yang kita inginkan. Banyak hal yang kita mau dan kita harapkan tak bisa kita gapai. Sekeras apapun kita berusaha jika memang takdir berkata dia tak mau bersama, aku tak bisa menolaknya. Bukankah sejatinya kita hanya menjalankan skenario dari Nya? Memang penyesalan selalu datang terlambat, tapi aku yakin akan ada hari esok yang lebih bahagia untukku dan juga untuk dia yang pernah dan masih ku cinta. Terimakasih tak sengaja telah menciptakan moment bahagia denganku dan sedikit memberi warna dalam hidupku yang monoton sebelumnya. Aku akan melupa dengan rela dan ikhlas tanpa luka suatu saat nanti. Aku harap suatu hari nanti dia membaca tulisanku malam ini.
Sekali lagi Terimakasih untuk dia yang brlum ku lupa (GAPB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar